Romantika Cinta Ali dengan Fathimah al-Zahra



www.ngajikuy.id | Pembicaraan tentang cinta adalah hal yang tidak pernah membosankan. Kisah setiap orang yang berbeda, apakah itu berakhir bahagia maupun sedih merupakan hal yang sangat indah untuk dinikmati. Sejak dahulu, banyak kisah-kisah yang menghipnotis pikiran dan hati kita, katakan saja misalnya kisah Cleopatra, laila majnun, romeo Juliet dan lainnya. 

Islam juga memiliki kisah cinta yang tidak kalah menarik, bahkan sangat romantis yaitu kisah Sayyidina Ali dengan siti Fathimah. Siti Fatimah adalah putri kesayangan Rasulullah. Bagaimana tidak? Sangat banyak hadis-hadis yang mengistimewakan kedudukan Fatimah. Misalnya saja hadis yang datang dari Rasulullah yang mengatakan bahwa semua manusia mempunyai ikatan keturunan dari ayah, kecuali keturunan Fatimah, maka rasulullah sendirilah yang menjadi ikatan keturunan mereka.
 
Sayyidina Ali juga tidak kalah hebat, beliau merupakan salah satu Khulafaur Rasyidin, seorang panglima yang keberaniannya tidak diragukan lagi di medan perang, dan juga orang di sebut sebagai kuncinya ilmu oleh baginda Nabi Muhammad saw.

Fatimah dikenal sebagai seorang putri yang sangat patuh dan berbakti kepada Rasulullah. Pertama kali hati Ali berdebar terhadap Fatimah adalah saat sang putri Rasulullah mengobati luka perang nya Rasulullah dengan sangat sigap.

Namun karena Ali adalah seorang pemuda yang miskin, lantaran jiwa dan raganya dipersembahkannya untuk berjihad di jalan Allah, beliau belum memiliki cukup mahar untuk meminang putri kesayangan Rasulullah tersebut. Akhirnya Ali mulai mengumpulkan mahar untuk bisa melamar Fatimah.

Ketika sedang giatnya mengumpulkan mahar, Ali terkejut mendengar kabar bahwa Abu Bakar melamar Siti Fatimah, sehingga Ali pun dilanda kesedihan saat itu. Namun Ali adalah orang yang sangat bijaksana, beliau sadar betul bahwa saingannya adalah seorang Abu Bakar, dimana kualitas islam dan imannya beliau lebih tinggi daripadanya. Namun kesedihan itu tidak berlansung lama, karena di kemudian waktu,  Ali tau bahwa Abu Bakar tidak berjodoh dengan Siti Fatimah.

Namun ternyata, kebahagiaan Ali tidak berlansung lama, tidak lama setelahnya terdengan kabar bahwa Umar bin Khattab datang untuk melamar putri Rasulullah. Terulang lagi, bahwa Ali hanya bisa pasrah karena beliau sadar bahwa Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat gagah perkasa dan tidak diragukan sumbangsihnya terhadap islam. Tetapi takdir masih berpihak kepada Ali, Umar bin Khattab juga ditolak oleh Rasulullah. Alasan yang Rasulullah berikan saat menolak Abu Bakar dan Umar bin Khattab sama, yaitu Fatimah masih kecil.

Namun meskipun demikian, Ali masih belum berani melamar siti Fatimah, karena sadar bahwa dia hanyalah seorang pemuda miskin. Harta yang dia miliki hanya berupa satu set baju besi plus tepung kasar yang disediakan untuk keperluan makannya. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa termasuk  yang memotivasi Ali untuk melamarnya adalah Umar bin Khattab, beliau berkata " Dia (Fatimah) untukmu".

Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian, Ali datang dan menemui Rasulullah untuk melamar putrinya. Namun ternyata ketika beliau telah duduk di hadapan Rasulullah, tiba-tiba beliau terdiam dan tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena tertegun dengan kewibawaan Rasulullah.

Rasulullah bertanya kepada Sayyidina Ali “ kamu datang untuk apa? Ada keperluan apa?” 
Namun Ali tidak bisa menjawab pertanyaan Rasulullah. 
Akhirnya Rasulullah bertanya kembali “ kamu datang untuk meminang Fatimah?”
“ Iya” Jawab Ali.
Rasulullah pun bertanya kembali, 
“ Apakah kamu memiliki sesuatu sebagai mahar untuk menghalalkan Fatimah?”
“ tidak ada ya Rasulullah” Jawab Ali.
Lalu Rasulullah bertanya,
“ tameng yang pernah kuberikan, Bagaimana?”
” Demi Allah, tameng itu hanya Huthamiyah, harga tameng itu  bahkan tidak sampai empat dirham” Jawab Ali.

Kemudian Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam menikahkan Sayyidina Ali dengan Fathimah dengan menjadikan tameng Huthaimiyah sebagai maharnya.
Inilah sepenggal kisah awal pernikahan Siti Fatimah dengan Sayyidina Ali. Dari kisah tersebut kita dapat mengambil beberapa hikmah. 

Yang pertama adalah pernikahan adalah kuasa Allah. tidak ada sesuatu apapun di bumi dan langit yang terlepas dari takdir Allah. salah satunya adalah pernikahan.

Yang kedua yaitu kekayaan bukanlah tolak ukur untuk menciptakan keluarga yang bahagia. Yang terpenting adalah bagaimana cara kita membangunnya bersama – sama menuju ketempat yang diridhai oleh Allah.

Dan masih banyak hikmah lain yang bisa kita petik dari kisah Sayyidina Ali dan Siti Fathimah.
Kisah di atas penulis kutip dari kitab Asd 'Al Ghaba karangan Ibnu Atsir

Penulis :
Muhammad Huzaifi Muslim


Posting Komentar

1 Komentar