Tuli 15 Tahun Karena Wanita Tua



ngajikuy.id | Isham bin Yusuf adalah seorang ulama yang begitu giat dalam beribadah, kegigihannya sungguh tidak dapat diragukan lagi, apalagi ketika beliau sedang melaksanakan shalat. Khusyuk seorang isham pun tidak perlu diremehkan lagi. Kendatipun demikian beliau masih saja menganggap dirinya belum seberapa dibandingkan para ulama lain yang semasa dan sekaliber dengannya. Juga masih saja mencari orang-orang yang diyakini lebih khusyu dan ikhlas dalam ibadahnya.

Pernah suatu ketika Isham bin Yusuf mendatangi majelis Hatim Al-asham (nanti akan kita ulas siapa sosok Hatim). Isham bertanya kepadanya. Ya Aba Abdurrahman, bagaimanakah engkau melaksanakan ibadah shalat? Hatim pun menghadapkan wajahnya kehadapan Isham. Ini adalah salah satu adab bagi seseorang ketika ada orang lain yang memanggilnya. 

Jawaban Hatim sungguh membuat Isham kaget sekaligus terkejut. Bagaimana tidak, Isham tidak pernah mendengar jawaban seperti yang diutarakan Hatim. Lalu apa jawaban Hatim ini?
Hatim berkata, ketika waktu shalat telah tiba, aku bergegas beranjak dari tempat semula ketempat wudhu untuk mengambil wudhu sebagai syarat sah mengerjakan shalat. Lalu aku berwudhu lahir dan batin.

Isham pun tertegun dengan jawaban Hatim, hingga beliau pun bertanya. Aku tidak pernah mendengar ada pembagian wdhu kepada lahir dan batin, apa maksud anda wudhu secara lahir dan batin? 

Hatim pun menjelaskan, adapun maksud dari wudhu lahir adalah aku basuh seluruh anggota wudhu secara merata dengan air mulai dari tangan sampai kaki dengan sempurna. Adapun wudhu batin maka aku basuh seluruh anggotaku dengan tujuh perkara.

1. Aku basuh seluruh anggota dengan taubat, semoga Allah menghilangkan dosa dari seluruh tubuh ini, dan mengangkat seluruh kotoran maknawi yang masih melekat di hati

2. Aku basuh seluruh anggota dengan penyesalan yang teramat dalam atas kesalahan dan dosa yang pernah aku lakukan kepada Allah sewaktu dulu. Dengan ini aku mengharap kiranya Allah mengampuni seluruh kekhilafanku

3. Aku hilangkan dalam hati ini rasa cinta kepada dunia, yang dapat menghalangiku dari cinta kepada pemilik dunia.

4. Aku hilangkan dalam hati ini keinginan untuk disanjung dan dipuji manusia, karena yang demikian hanya akan menjadikanku rusak binasa

5. Aku hilangkan dalan hati ini keinginan untuk memimpin dan dihormati oleh khalayak ramai, yang mengakibatkan kepada dibunuh oleh keinginan tersebut

6. Aku hilangkan rasa  dendam terhadap manusia yang pernah menyakitiku, karena hal itu tidak lah kembali manfaat untukku

7. Aku hilangkan dalam hati ini rasa iri dengki terhadap nikmat yang diberikan kepada orang lain disekitarku.

Setelah selesai berwudhu dengan cara yang demikian, aku pun beranjak menuju mesjid untuk menunaikan shalat. Lalu aku hamparkan sajadah didepanku, kemudian berdiri menghadap kiblat, seraya merenungkan dan menghadirkan hati sepenuhnya kehadhirat Allah Swt.
Aku berdiri sebagai seorang yang sangat membutuhkan pertolongan dan sangat fakir yang tidak ada seorangpun yang mampu menolongku selain Allah. Aku hadir seolah-olah Allah berada dihadapanku, melihat dan memperhatikan seluruh tingkah laku dan perbuatnku, seolah-olah surga berada dikananku, neraka dikiriku, izrail sang pencabut nyawa dibelakangku, dan titi shirat tepat berada dibawah telapak kakiku.

Kemudian aku menganggap bahwa shalat yang sebentar lagi aku laksanakan adalah shalat yang terakhir kali Allah beri kesempatan untukku di dunia. Tidak sempat bagiku memikirkan hal-hal lain.
Lalu aku hadirkan niat dalam hati seraya bertakbir mengagungkkan Allah swt, zat yang mampu menolongku dalam berbagai situasi kondisi. Aku lanjutkan dengan membaca al fatihah dengan penuh renungan disetiap hurufnya, ayatnya, dan dari keseluruhan suratnya.

Aku ruku’ dalam keadaan begitu merendah diri dan penuh dengan penghambaan kepada Allah Swt, karena aku sangat yakin bahwa Allah selalu memperhatikan hamba-hambanya baik ketika sendiri maupun ketika beramai-ramai.

Kemudian aku  sujud dengan penuh rasa hina dina, dengan penuh kotoran disekujur tubuh, dan kiranya Allah mau menghilangkan dosa tersebut. Kemudian aku membaca tasyahud dengan penuh harapaan baik akan ada sebuah kelapangan dalam hidup, dan kemudahan setelah mati.
Dan terakhir aku membaca salam dengan begitu ikhlas tanpa sedikitpun ada unsur riya dan menampakkan kepada selain Allah Swt.

Taukah engkau hai Isham! bahwa aku telah tiga puluh tahun mengerjakan shalat seperti yang telah aku jelaskan tadi. Isham pun tersentak sambil berkata dengan nada penuh ta’dhim. Sungguh tidak akan ada yang mampu melaksanakan shalat seperti yang demikian selain engkau.
Setelah mendengar cerita dari Hatim Al Asham, tiba-tiba Isham menangis tersedu-sedu, meratapi akan shalatnya yang masih begitu jauh dibandingkan dengan shalatnya Hatim.

Berikut akan kita coba telisik siapakah sosok Hatim Al Asham yang begitu luar biasanya mengerjakan shalat sampai membuat Isham menangis. 

Hatim Al Asham adalah seorang ulama besar yang tinggal di negeri khurasan, Nama sebenarnya adalah Abu abdirrahman Hatim ibn Alwan, namun beliau lebih dikenal dengan panggilan Hatim Al Asham. Sifat dan kepribadian nya begitu baik, beliau dikenal khalayak ramai sebagai orang yang sangat ramah dan dermawan juga mampu menjaga perasaan orang lain agar tidak tersakiti
Jika kita membuka kamus maka akan kita temukan arti dari kalimat Asham yaitu tuli, lalu apakah Hatim itu memang benar tuli sehingga dipanggil Asham atau hanya pura-pura tuli. 

Berikut akan kita ketahui kisahnya.
Suatu hari seorang wanita tua  bertamu kerumah Hatim hendak menanyak suatu persoalan, tiba-tiba tanpa disengaja siwanita tersebut mengeluarkan kentut yang baunya tidak sedap. Wanita itu begitu malu ketika itu karena yang ada dihadapannya adalah seorang ulama. Namun Hatim adalah sosok yang begitu baik, ekspresi mukanya tidaklah berubah seperti sebelum kejadian, dia berkata kepada perempuan tersebut, coba keraskanlah suaramu sedikit lagi, aku tidak mengetahui apa yang kamu tanyakan. 

Perempuan itu mengulangi pertanyaan dengan suara yang lebih keras, Hatim pun menjawab dengan suara yang keras. Setelah persoalannya selesai perempuan itu pun pulang dengan hati yang senang dan gembira karena meyakini bahwa Hatim tidak mengetahui kejadian memalukan tadi. 

Kepura-puraan hatim bukan lah dalam limit waktu sebentar, beliau berpura-pura tuli sampai lima belas tahun hingga si wanita itu meninggal. Beliau bersikap seperti itu karena ingin menjaga perasaan orang lain, ingin menjaga nama baik wanita itu dihadapannya. Hingga beliau dikenal ketika itu dengan gelar Hatim Al asham.

Itulah sekelumit kisah sosok ulama besar khurasan yang sampai saat ini masih menjadi panutan kita semua, semoga menjadi ibrah dan pelajaran yang menghantarkan kita ke kebahgiaan dunia dan akhirat Amin ya Rabbal alamin.

Kisah pertama dijelaskan dalam kitab An Nawadir karya Syihabuddin al Qalyubi 
Kisah kedua dijelaskan dalam kitab qami’uth thugyan karya Iman Nawawi al Bantani

Oleh : Tgk. Jazuli Abubakar 


Posting Komentar

0 Komentar