Muthmainnah, Ammarah, Lawwamah, Ruhaniyyah, Kamu Nafsu Yang Mana ?

 

*Oleh:Muhammad Huzaifi Muslim*

Salah satu kisah paling populer yang sering dibacakan ketika kita masih kecil adalah proses penciptaan Nabiyullah Adam. Bagaimana ketika mula-mulanya para malaikat tidak setuju dengan diutusnya Nabi Adam ke muka bumi, karena mereka menganggap bahwa manusia hanya akan menghancurkan keseimbangan di dalamnya. Namun setelah pembuktian dengan mengetahui nama-nama benda yang ditanyakan oleh Allah, maka para malaikatpun tunduk dan mengakui Nabi Adam as, dan manusia secara umumnya.

Manusia yang dipilih sebagai khalifah di muka bumi Allah karuniai dengan dua hal, yaitu akal dan nafsu. Keduanya merupakan anugerah yang hanya diberikan kepada manusia, tidak kepada malaikat dan tidak pula kepada binatang. Sehingga kalau kita bisa memanfaatkan keduanya sebagai kebaikan, maka Allah akan menempatkan kita pada posisi yang paling tinggi di surga Nya. Namun juga sebaliknya, kalau kita tidak bisa menggunakan nikmat ini dengan baik, malah menuntunnya ke jalan murka, maka tentu saja azab Allah amatlah pedih.

Tentu saja, banyak dari kita yang tenggelam dalam menikmati tuntunan nafsu, sehingga terlena dan tidak mengenal lagi arah kebaikan. Tidak heran kalau kita melihat banyak orang yang tenggelam dalam nafsunya, karena proses penciptaannya sendiri juga memiliki kisah yang luar biasa. Bagaimana dia dengan egonya menjawab ketika ditanyakan oleh Allah “ siapakah engkau dan Aku siapa?”, lalu nafsu menjawab “ Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau.” Lalu Allah memasukkan Nya dalam neraka yang penuh kelaparan selama 100 tahun, barulah dia menjelaskan dalam jawabannya bahwa Allah adalah tuhannya. Kisah ini sebagaimana disebutkan di dalam kitab tanbihul ghafilin karya Abu Laits as-Samarqandi.

Namun meskipun demikian, kalau kita sukses dalam membimbing nafsu, tentu saja nafsu tersebut akan berubah menjadi nafsul muthmainnah, yaitu nafsu yang akan mengantar kita ke surga nya Allah.

Di dalam kitab Ghayah wushul karangan Syeikh Zakaria al-Anshari, ulama besar Mesir yang sangat dihormati pada masanya, beliau menyebutkan bahwa nafsu terbagi menjadi empat :

1. Nafsu Ammarah

Nafsu ammarah adalah nafsu yang selalu mengajak kita untuk mengerjakan maksiat kepada Allah.  Cara untuk melawannya adalah dengan bersungguh-sungguh untuk menolak desakannya agar kita jatuh dalam maksiat. Karena nafsu ammarah akan terus menerus memaksa kita untuk terjerumus dalam satu maksiat lalu mengerjakan maksiat yang lain sehingga kita terbiasa dan nyaman dalam mengerjakan perbuatan yang dilarang oleh Allah.

2. Nafsu Lawwamah

Nafsu lawwamah adalah nafsu pesimis. Artinya nafsu yang membuat kita terus merasa pesimis terhadap nasib kita di dunia maupun di akhirat. Efeknya tetap akan timbul meski kita telah bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan. Ini juga termasuk nafsu yang tercela dan berbahaya, karena bisa-bisa membuat kita merasa putus asa dari rahmat Allah. Maka sesungguhnya putus asa dari rahmatNya termasuk dosa besar. Allah adalah zat yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih.

3. Nafsu Ruhaniyyah

Nafsu ruhaniyyah adalah nafsu yang lebih condrong kepada perbuatan mubah. Misalnya jalan-jalan, mendengar suara yang indah, dan makan makanan yang enak.

4. Nafsu Muthmainnah

Nafsu muthmainnah adalah nafsu yang membuat kita merasa tentram dan damai dalam istiqamah pada kebaikan. Inilah nafsu yang benar-benar harus kita usahakan. Yaitu membuat kita terus termotivasi untuk berbuat taat dan kebaikan, sehingga surga adalah pemberhentian terakhir kita.

Jika seandainya nafsu telah berhasil kita bimbing, tentu saja jiwa dan raga akan merasa jenuh disaat tidak melakukan kebaikan. Maka tidak heran ketika kita lihat para ulama salaf dan para waliyullah menghabiskan sehari-harinya untuk beribadah kepada Allah tanpa merasa jenuh dan bosan sedikitpun, ini karena mereka telah berhasil melatih dan membimbing nafsunya untuk nyaman dalam taat kepada Allah.

editor: zf


Posting Komentar

0 Komentar