Tawakkal yang Dikalahkan Oleh Burung

 

*Oleh: M.Furqan*

Terkadang kita bangga karena lahir sebagai manusia, yakni makhluk dengan penciptaan paling sempurna, indah dan menawan. Mengalahkan makhluk-makhluk lainnya dari segi fisik dan akal. Akan tetapi, itu semua tidak menjamin manusia telah lebih unggul dari makhluk-makhluk yang lain. Manusia kadang kalah dengan binatang dalam beberapa perkara. Salah satunya dengan sifat yang dimiliki oleh burung. 

Apa itu?

Sifat tersebut adalah tawakkal. Tawakkal adalah sifat agung yang bisa ditemukan dalam diri seekor burung. Coba perhatikan burung dalam kesehariannya mencari makanan. Sebenarnya dia bebas mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya dari alam semesta yang bisa disimpannya untuk kebutuhan besok, lusa dan seterusnya. Akan tetapi, ia sadar dan tawakkal kepada Allah, sehingga hanya membuat tempat tinggal seadanya, makan sekedarnya, tanpa menghiraukan bekal untuk besok, lusa dan seterusnya.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan umumnya manusia. Kita boleh mengatakan beriman kepada Allah. Akan tetapi, tindakan kita kerap sekali mengisyarah kepada keraguan terhadap Allah, umumnya soal rezeki. Sehingga terus berusaha untuk mendapatkan rezeki sebanyak-banyaknya untuk kehidupan besok, lusa dan seterusnya, mulai dari tempat tinggal, makanan harta dan lainnya. Ini merupakan salah satu cerminan yang menunjuki kepada keraguan kita terhadap Allah.

Dari sini, kita harus mengakui bahwa kita telah dikalahkan oleh seekor burung dari sikap tawakkal. Padahal apabila melihat kebijaksanaan, manusia tentu memilikinya karena pertimbangan akal. Tetapi terkadang hawa nafsu menginginkan lebih sehingga membuat kita jarang bersyukur dengan apa yang sudah ada. 

Semoga kita dijauhi dari keserakahan dunia dan keraguan terhadap Allah lebih-lebih perihal rezeki. Kita hendaknya belajar dari burung pada sikap tawakkalnya kepada Allah. Betapa dirinya tidak sekuat manusia dari segi kekuatan, tetapi bisa lebih tegar soal rezeki.

Rasulullah Saw sendiri dalam hadisnya menyebutkan bahwa seseorang yang punya prinsip seperti burung maka dia dijamin surga oleh Allah Swt. Rasulullah Saw bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: يدخل الجنة أقوام أفئدتهم مثل أفئدة الطير

Artinya: Diriwayatkan daripada Abi Hurairah ra daripada Nabi Muhammad Saw beliau bersabda: "Akan masuk surga sekelompok orang yang hatinya sama dengan hati burung". (HR. Muslim).

Hadis ini  ini ditafsirkan sebagai jaminan Rasulullah Saw bagi setiap orang yang hatinya lembut seperti hati burung. Hati burung yang dimaksudkan di sini adalah hati yang pasrah (tawakkal) kepada Allah, seperti burung. Artinya, hati hanya selalu bersandar kepada Allah, tidak kepada usaha duniawi.

Dari tafsir tersebut dapat diketahui bahwa Rasulullah Saw saat menyerupakan hati manusia dengan hari burung sarat dengan nilai filosofis. Burung adalah satu binatang yang sangat tawakkal dalam hal rezeki sehingga Rasulullah menjamin bahwa seseorang yang hatinya seperti hati burung maka pasti akan masuk surga.

Namun dalam membahas tawakkal perlu digaris bawahi bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha sehingga orang yang berusaha itu tidak lagi dianggap orang yang bertawakkal. 

Imam Al-Qusyairi menyatakan hal ini memperjelas arti tawakkal dengan perkataannya:

‎واعلم أن التوكل محله القلب والحركة بالظاهر لا تنافي التوكل بالقلب

"Ketahuilah, bahwa tampat tawakkal itu di dalam hati, usaha lahiriah tidak menegaskan sikap tawakkal di hati"

Dari pernyataan tersebut bisa diketahui bahwa bekerja tidak menafikan tawakkal. Seperti halnya burung-burung itu. Ia berangkat di pagi hari untuk mencari makan, berikhtiyar pada setiap pohon-pohon, buah-buahan atau bunga-bunga. Begitulah orang yang bertwakkal, dia juga berikhtiyar dengan usahanya, mencari pekerjaan dan bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Namun terkadang yang menjadi pembedanya adalah burung-burung itu lebih bersandar kepada Allah sementara manusia lebih sering meragukan dan bahkan melupakan Allah sebagai pemberi rezeki. 

Semoga kita tergolong manusia yang mempunyai hati seperti hatinya burung. Bekerja diiringi dengan tawakkal yang penuh kepada Allah Swt. Hal itu perlu karena membuat hati lebih bersyukur dan percaya atas jaminan Allah Swt. Dengan begitu  kita terhindar dari sikap takut akan kepastian rezeki dan rasa takut untuk memberi sedekah. Kita juga terhindar dari sikap mengandalkan kehebatan diri atas rezeki yang didapat atau mengganggap rezeki itu ada tanpa adanya peran Allah Swt sehingga kerap sekali melupakan kewajiban daripada Allah atas rezeki yang didapat yaitu kewajiban mengeluarkan sebagian harta sebagai zakat. []

Editor: Muhammad Abrar


Posting Komentar

0 Komentar