Do’a Rasulullah Saw, Kiat Mujarab Agar Terbebas Dari Hutang

*Oleh: Muhammad Abrar*

Hutang adalah sesuatu yang memberatkan hati dan pikiran. Tetapi kadang kala hutang tidak bisa dihindari ketika kebutuhan hidup semakin tinggi sedangkan penghasilan kita tidak mencukupinya. Maka jalan satu-satunya adalah meminta pinjaman dalam bentuk hutang dari orang lain. 

Keadaan ini bisa terjadi semakin berlanjut. Tanpa disadari daftar hutang semakin banyak seiring bertambahnya orang yang dimintai hutang. Maka semakin bertambahlah beban hidup. Banyak jalan dicari agar terbebas dari hutang yang sudah menumpuk, termasuk dengan berhutang lagi. Sehingga sering terdengar kiasan “gali lubang tutup lubang” yang artinya berhutang untuk menimbun hutang yang lain.

Bahkan sebagian orang rela mengambil jalur yang diharamkan agama untuk membayar hutang. Saat ini, banyak sekali penawar jasa rentenir yang masuk ke desa-desa. Mereka memberi jasa pinjaman dengan konsekuensi bunga atau membayar lebih dari jumlah yang dihutangi. Jalur ini dalam syari’at adalah riba dan dihukumi haram serta mengakibatkan kerasnya hati. Tetapi tidak sedikit orang-orang menempuh jalur ini demi maksud yang ingin dicapai.

Maka tentu saja terbebas dari hutang adalah harapan bagi orang yang sedang mempunyai hutang. Bagi mukmin yang jujur, tentu tidak ingin menempuh jalan haram di setiap langkah dalam kehidupannya, termasuk dalam persoalan ini. Lantas bagaimanakah cara yang baik untuk segera melunasi hutang tanpa perlu menempuh jalur yang haram? 

Disebutkan dalam kitab “Min Mujarrabat al-Shalihin fi Kasyaf Karb al-Mukrubin” ada satu cara mujarab yang diajarkan Rasulullah Saw agar segera terbebas dari hutang. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunannya daripada Abi Sa’id al-Khudri beliau berkata: 


“Suatu hari Rasulullah Saw masuk ke dalam mesjid. Lalu beliau melihat satu laki-laki daripada kalangan Anshar, yang sering diapanggil Abu Umamah. Tatkala itu Rasulullah Saw bersabda:

"يَا أَبَا أُمَامَةَ، مَا لِي أَرَاكَ جَالِسًا فِى الْمَسْجِدِ فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ؟". قَالَ هُمُوْمٌ لَزِمَتْنِي ، وَدُيُوْنٌ يَا رَسُوْلُ اللهِ ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ " أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلَامًا إِذَا أَنْتَ قُلْتَهُ أَذْهَبَ عَزَّ وَجَلَّ هَمّكَ، وَقَضَى عَنْكَ دَيْنَكَ" قَالَ: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: " قُلْ إِذَا أَصْبَحْتَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ ، وأَعُوذُ بِكَ مِنَ غًلَبَةِ الدَّيْنِ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ. قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، فَأَذْهَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمِّي، وَقَضَى عَنِّي دَيْنِي. 

Artinya: “Wahai Aba Umamah, apa gerangan dirimu duduk di mesjid di luar waktu shalat?. Ia menjawab: “Kegundahan dan hutang yang menghimpitku ya Rasulullah”. Rasulullah Saw bersabda: “Maukah engkau aku ajari satu kalimat apabila engkau ucapkan maka Allah Swt menghilangkan kegundahan dan hutangmu? Ia menjawab: “Tentu ya Rasulullah”. Rasulullah Saw bersabda: “Amalkan di waktu pagi dan petang “Allahumma inni a’uzu bika minal hammi wal hazan, wa a’uzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’uzubika minal jubni wal bukhli, wa a’uzubika min ghalabatit daini wa qahrir rijal (Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada gundah dan sedih, dan aku berlindung dengan-Mu daripada lemas dan malas, dan aku berlindung dengan-Mu daripada takut dan pelit, dan aku berlindung dengan-Mu daripada hutang dan penindasan orang. Abu Umamah berkata: “Aku pun mengamalkan do’a itu, kemudian Allah Swt menghilangkan kegundahanku dan melunasi segala hutangku”. (HR. Abu Daud).[1]

Hadis di atas mengisahkan tentang Abu Umamah mengadu kepada Rasulullah Saw tentang beban hidupnya yaitu sering gundah dan dililit oleh hutang. Ia kebingungan hendak bagaimana cara menghadapi beratnya permasalahan yang dirasakan olehnya itu, maka datanglah ia ke mesjid yang menurut keterangan riwayat saat itu belum tiba waktu shalat. 

Rasulullah Saw menegurnya dan menanyakan ada gerangan apa sehingga Abu Umamah ada di mesjid padahal bukan waktu shalat.

[1] Dr. Muhammad Adil Azizah al-Kayali, Min Mujarrabat al-Shalihin fi Kasyaf Karb al-Mukrubin, h. 38.

Abu Umamah pun menceritakan keadaannya. Mendengar jawaban Abu Umamah, Rasulullah Saw kemudian mengajarinya satu do’a agar diamalkan. Kata Nabi, apabila do’a itu diamalkan setiap pagi dan sore, maka dengan karunia Allah Swt akan dihilamgkan kesedihannya dan dilunasi semua hutang. 

Lantas Abu Umamah mengamalkannya dan terbuktilah apa yang dikatakan Rasul benar. Beliau bahagia setelah mengamalkan do’a itu itu dan semua hutangnya terlunasi.

Dalam kitab Shahih al-Bukhari diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw juga memperbanyak membaca do’a ini. Hal ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari daripada Anas bin Malik beliau berkata:

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ، قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ أَبِي عَمْرٍو، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ ‏"‏‏. 

Artinya: “Kami diberi hadis oleh Khalid bin Mukhlad beliau berkata, kami diberi hadis oleh Sulaiman beliau berkata, saya diberi hadis oleh Amru bin Abi Amr beliau berkata, Aku mendengar Anas berkata: Nabi Saw sering sekali berdo’a “Allahumma inni a’uzu bika minal hammi wal hazan, wa a’uzubika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’uzubika minal jubni wal bukhli, wa a’uzubika min ghalabatit daini wa dhala’i rijal (Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada gunda dan sedih, dan lemas dan malas, dan takut dan pelit, dan hutang dan penindasan orang”. (HR. Bukhari)[2]

Hadis di atas menunjukkan bahwa Rasulullah Saw tidak hanya menjadikan do’a tersebut sebagai solusi yang diajarkan kepada sahabatnya ketika mengadu permasalahan hidup, tetapi juga menjadi amalan pribadi yang selalu diamalkannya.


Makna Do’a

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ

“Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada gunda dan sedih”

الَّهُمَّ (Kegundahan)

Dalam bahasa Arab makna al-hamm adalah:

الَّهُمَّ: المَكْرُوْهُ الْمُؤَلِّمُ عَلَى الْقَلْبِ عَلَى أَمْرٍ مُسْتَقْبَلٍ يَتَوَقَّعَهُ.

“Kecemasan yang memberatkan hati terhadap masa depan”.

Artinya, al-hamm adalah perasaan cemas yang memberatkan hati seseorang terhadap perkara masa depan. Yaitu cemas terhadap diri sendiri terhadap sesuatu yang belum terjadi. Dari kecemasan ini timbullah pertanyaan seperti “bagaimana ya nasib saya 10 tahun lagi”, “apa saya akan sanggup membiayai istri jika saya menikah?”, “bagaimana ya keadaan keuangan saya besok”,  “kawan saya sudah mapan dan punya kerja sendiri, bagaimana nanti ke depan apakah saya akan mapan juga?”, “bagaimana jika saya tua nanti apakah masih ada yang peduli? Dan lain sebagainya. Ini semuah disebut dengan al-hamm.

الحَزَنْ (Kesedihan)

Makna al-hazn adalah:

الحَزَنْ: التَّأَلُّمُ عَلَى حُصُوْلِ الْمَكْرُوْهِ فِي الْمَاضِى أَوْ فَوَاتِ الْمَحْبُوْبِ 

“Kesedihan karena terjadinya perkara yang dibenci pada masa yang lalu atau kepergian orang yang dicintai (kekasih)”.[3]

Artinya, apabila al-hamm membuat seseorang cemas terhadap masa depan maka sebaliknya al-hazn membuat seseorang galau memikirkan masa lalu yang kurang mengenakkan baginya. Barangkali pernah melakukan kesalahan sehingga membuat dirinya takut dan menyesali kesalahan itu. Lalu  membuat dirinya bersedih karena tidak mungkin mengulang sesuatu yang telah terjadi. Inilah yang disebut dengan al-hazn.


Ketika dihinggapi al-ham, seseorang cenderung tidak percaya akan takdir Allah Swt. Hal yang perlu dilakukan adalah bertawakkal kepada Allah dan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak dan ketetapan-Nya. Seraya mengiringi setiap langkah dengan usaha karena usaha itu sikap ikhtiyar dari seorang hamba, tetapi harapan dan kepercayaan penuh kepada Allah jangan pernah di kesampingkan. Terlalu cemas dengan masa depan itu tidak baik. Oleh sebab itu Rasulullah memohon agar dijauhkan dari sifat ini.

Begitupula dengan al-hazn. Ketika ditimpa keadaan ini seseorang cenderung menylahkan dirinya bahkan menyalahkan Allah Swt. Yang perlu dilakukan adalah optimis (tahsin dhan) terhadap Allah Swt dan meyakini bahwa Allah Maha Pemaaf yang akan memaafkan kesalahan hamba-Nya jika bertaubat, sebesar apapun kesalahan itu. Di samping itu perbanyaklah membaca do’a ini terutama di waktu pagi dan petang agar dijauhkan dari al-ham dan al-hazn.


[2] Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Al-Jami’ al-Shahih, Jld. 4, (Kairo: Mathba’ah Salafiyah, 1400 H), h. 166.

[3] Defenisi al-ham dan al-hazn dikutip dari Syekh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Muhammad bin Abu Bakar, Bada’i’ al-Fawaid, (Jeddah: Dar al-Ilm al-Fawaid, t.t), h. 714 dengan sedikit perubahan pada narasi.

وأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ

“Dan aku berlindung dengan-Mu daripada lemas dan malas”

Syekh Ibnu Hajar al-Ashqalani dalam kitabnya Fath al-Bari menyebutkan perbedaan al-‘ajz wa al-kasl (malas dan lemas), beliau berkata:

الفرق بين العجز والكسل، أن الكسل ترك الشيء مع القدرة على الأخذ في عمله، والعجز عدم القدرة. 

“Beda di antara lemas dan malas adalah malas merupakan sifat yang (menyebabkan seseorang) meninggalkan sesuatu dan ia sanggup lakukan, sedangkan lemas meninggalkan sesuatu karena tidak sanggup melakukannya sama sekali.


Dari penjelasan tersebut dapat dipahami pengertian kedua istilah ini, sebagai berikut:

العجز: ترك الشيء لعدم القدرة على الأخذ في عمله

Lemas: “Meninggalkan pekerjaan karena tidak sanggup melakukannya sama sekali”.

الكسل: ترك الشيء مع القدرة على الأخذ في عمله

Malas: “Meninggalkan pekerjaan yang sanggup dilakukan”.

Syeikh Muhammad Syams al-Haq Abadi  dalam kitabnya ‘Aun al-Ma’bud Syarah Sunan Abi Daud menambahkan arti al-ajz yang dimaksudkan dalam hadis, beliau berkata:


وَالْمُرَادُ هُنَا الْعَجْزُ عَنْ أَدَاءِ الطَّاعَةِ وَعَنْ تَحَمُّلِ الْمُصِيبَةِ 

“Maksud lemas di sini adalah tidak sanggup berbuat taat dan tidak sanggup menanggung musibah”.

Berbeda dengan al-ajz, al-kasl (malas) itu terjadi ketika sehat. Malas memberi efek negatif terhadap seseorang. Banyak pekerjaan tertunda gara-gara sifat ini. Bahkan tanpa disadari, hadirnya rasa malas membuat tugas semakin menumpuk dan lebih parahnya lagi ibadah sampai ditinggalkan. 

Barangkali pernah mendengar istilah “bad mood” yang berarti buruknya suasana hati sehingga tidak ingin melakukan apa-apa. Keadaan itulah dinamakan al-kasl.


Baik al-ajaz maupun al-kasl keduanya menjadi penghambat dalam beraktifitas karena tidak ada semangat untuk melakukan sesuatu. Maka sangat penting mengamalkan do’a ini agar dijauhi dari al-ajz dan al-kasl, lebih-lebih bagi santri agar selalu semangat dalam menuntut ilmu. 


وأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ

“Dan aku berlindung dengan-Mu daripada takut dan pelit”

الْجُبْنِ (Takut)

الجبن: الْخَوْفُ عِنْدَ الْقِتَالِ وَمِنْهُ عَدَمُ الْجَرَاءَةِ عِنْدَ الْأَمْرِ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْمُنْكَرِ 

“Takut menghadapi perang (fi sabilillah), termasuk pula tidak berani melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. ”


البخل (Pelit)

البخل: إمساك النعمة (بكلِّ صورها) عن أصحاب الحاجة، واستيلاؤه على القلب. 

“Membatasi diri dari segala bentuk pemberian terhadap orang yang sedang berhajat”.[4]

Pada bagian ini Rasulullah Saw juga berlindung dari sifat takut dan pelit. 

Bagi pelajar terutama santri, menjadi penakut sangat tidak baik. Karena itu menghambat proses belajar dan menghambat tercapainya tujuan belajar. Seperti misalnya takut bertanya saat belajar, takut berkompetisi dalam kelas atau lomba, takut tidak berhasil dalam belajarnya dan lain sebagainya. Maka sifat penakut perlu dihindari.

Begitu pula pelit. Pelit adalah sifat buruk yang empunya tidak disenangi oleh orang lain. Karena itu orang pelit tidak punya banyak kawan. Sebaliknya orang dermawan punya banyak kawan dan mudah membangun relasi. Sifat pelit perlu dihindari dan menggantinya dengan dermawan.


وأَعُوذُ بِكَ مِنَ غًلَبَةِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

“Dan aku berlindung dengan-Mu daripada hutang dan penindasan orang”


Kekangan Hutang (غًلَبَةِ الدَّيْنِ)

غًلَبَةِ الدَّيْنِ: ثِقل الدين وشدّته، الذي يميل بصاحبه عن الاستواء.

“Kekangan hutang yang membuat seseorang kacau (pikirannya)”.


Penindasan Orang (غلبة الرجال)

قهر الرجال: شدّة تسلّطهم وقهرهم بغير حق.

“Penindasan dari orang lain tanpa hak".

Hutang membuat pikiran menjadi kacau karena hak orang lain belum terlunasi. Bagi empunya hutang, ia memiliki hak untuk meminta agar hutangnya dibayar. Menagih hutang bukanlah kezaliman bagi pemilik hutang karena itu memang haknya.

Adapun غلبة الرجال (penindasan orang) itulah bentuk kezaliman dari orang lain. Seseorang menzalimi kita dengan tanpa hak, baik terhadap fisik, nyawa, harta maupun kehormatan. 


Kesimpulan

Hutang adalah sesuatu yang memberatkan hati dan pikiran. Tetapi bukan berarti seseorang tidak akan terbebas dari hutang. Dengan mengamalkan do’a di atas sudah dibuktikan oleh Abu Umamah bahwa sangat mujarab untuk terbebas dari hutang. Dengan senantiasa mengamalkan do’a itu setiap pagi dan sore, beliau dibebaskan dari hutang dan selalu merasa bahagia.

Selain terbebas daripada hutang, Rasulullah Saw juga mengajarkan kepada Abu Umamah melalui do’a tersebut beberapa perkara lain agar dimohonkan kepada Allah Swt, yaitu: Kegundahan, kesedihan, lemas, malas, takut, pelit, dan penindasan orang. Masing-masing arti tersebut sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Sudah sepantasnya setiap mukmin untuk senantiasa mengamalkan dengan do’a ini. Lebih-lebih bagi orang yang sedang dikekang hutang atau berbagai macam permasalahan hidup lainnya. Semoga kita selamat dari keburukan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam bissawab.


[4] Defenisi al-bukhl dikutip dari Syekh Ahmad Syarif al-Nas’an, (online), https://www.naasan.net/, diakses pada 10 September 2020.


Posting Komentar

0 Komentar