Lupa Mencintai Diri Sendiri

 



*Oleh: Jazuli Abubakar*

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan


Allah Swt telah menganugerahkan kita di dunia ini dengan berbagai fasilitas yang sempurna, baik dari sisi internal (akal, pikiran, kesehatan, dan lain-lain) maupun eksternal (alam, dan lingkungan). Semua itu Allah kasih secara gratis dan unlimited, meski tidak sedikit dari kita yang acuh dan abai akan nikmat tersebut. Manusia yang hebat adalah mereka yang mampu mengelola nikmat yang diberikan pada tempat yang diperintahkan, bukan malah menunggangi nikmat demi kepuasan nafsu bejat.

Mencintai kehidupan adalah salah satu cara kita mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan. Dan kesekian kalinya kita lupa untuk mencintai diri sendiri, padahal langkah pertama mencintai hidup dimulai dari diri sendiri. Mencintai kehidupan artinya mencintai diri sendiri sebaik mungkin. Karena tidak ada yang tulus mencintaimu selain dirimu sendiri. Namun bagaimanakah cara mencintai diri sendiri? 

Ada beberapa cara untuk mencintai diri sendiri, diantaranya adalah:

1. Berbuat lah untuk masa depan  yang lebih baik

Ia benar, kegiatan yang kamu lakukan sekarang haruslah ada keuntungan di masa depan, jangan terlalu sering menginginkan keuntungan yang instan. Dalam hal ini ada beberapa poin yang harus kita benahi mengenai spekulasi kita tentang makna masa depan. Masa depan bukanlah ketika umur beranjak 30 tahun, bukan pergeseran dari pengangguran ke pekerja, bahkan juga pergantian status dari single ke together

Esensi masa depan adalah masa ketika kita sudah mengakhiri kehidupan di dunia dan memulai kehidupan baru di akhirat. Orang yang diakhirat mendapatkan kemenangan dan ridha Allah swt itlah orang yang telah benar-benar terjamin masa depan nya, begitupun sebaliknya orang yang mendapat murka dan siksa dari Allah swt adalah orang yang gagal meraih masa depan.

Sangat disayangkan melihat generasi manusia yang akhir-akhir ini lebih menganggap urgent perihal duniawi dan menganaktirikan urusan ukhrawi. Kita ambil saja contoh pada sosial media, demi mendapatkan popularitas dan sanjungan  dari manusia mereka melakuka apa saja, membuka aurat, berjoget ria, sampai melakukan perbuatan layak nya binatang. Apakah ini namanya mencintai diri sendiri?, tentu saja bukan. Yang mereka cintai adalah tepuk tangan manusia, meski itu dapat membunuhnya. 

2. Mengutamakan agama mengesampingkan nafsu

Mengutamakan agama adalah mengaitkan segala urusan pada koridor agama, bukan meninggalkan segala aspek dunia. Jika dunia bisa menjembatanimu untuk akhirat maka itu pun termasuk orang yang mengutamakan agama.

As-Sara Suqthy berkata: tidak bisa dikatakan terpujinya seseorang sampai dia lebih mengutamakan agama ketimbang nafsu, juga tidak akan binasa seseorang sampai dia lebih mengutamakan nafsu ketimbang agamanya

Poin ini sangat penting diutarakan ( biar mirip gus Baha dikit katanya hehe) karena mengingat sekarang ini nafsu lagi gencar-gencarnya memangsa manusia, dengan didukung oleh fasilitas yang sempurna, dari mulai sosial media, budaya, hingga agama.

3. Mengumpulkan bekal

Termasuk orang yang bodoh ketika mengarungi lautan yang luas yang membutuhkan waktu berbulan-bulan disana hanya membawa bekal satu tas jinjing berisi tiga pakaian ditambah satu kantong plastik berisi makanan untuk satu malam.

Begitulah analogi kehidupan akhirat. Ketika kita sudah mengetahui makna dari masa depan yang sebenarnya yaitu kehidupan yang begitu lama masa nya dan begitu panjang perjalanannya, maka sangat lah tidak pintar (kalau tidak ingin dikatakan bodoh) jika bekal yang kita bawa hanya beberapa amal yang kita kerjakan didunia itupun entah diterima atau tidak.

4. Menunggu kematian

Sebaliknya jika kita giat beramal didunia dari mulai amalan wajib sampai amalan sunah, maka kita sangat percaya diri akan mampu hidup diakhirat dengan aman dan nyaman, kita akan siap mengahdapi segala rintangan yang ada.

Karena amalan yang banyak didunia akan lebih memperbaiki sangka kita akan Allah Swt dan meminimalisir was-was akan siksa akhirat.

Sebagaimana yang diucapkan Ibnu Idris diakhir hayatnya kepada putrinya yang menangis melihat ayah nya yang sedang sekarat. Hai anakku jangan lah engkau tangisi kepergianku, sebab aku telah mengkhatam Al Quran 4.000 kali di rumah ini.

Ibnu Idris sangat yakin bahwa dengan amal mengkhatam Al Quran insyaallah nanti di akhirat  Allah akan ridha kepadanya, 

Maka dari itu mulai hari ini cintailah dirimu sendiri dengan sebaik-baiknya, berbaik sangkalah kepada Tuhan karena didunia ini tidak ada yang memberimu kepastian selain Tuhan, dan tetaplah beramal hari ini untuk kebaikan masa depan.

Referensi:

*Hilyatul awliya

*Siyar ‘alam an-Nubala


Posting Komentar

0 Komentar