Mapan Atau Nikah Aja Dulu?

 

  *Oleh : M. Huzaifi Muslim*  

    Salah satu sunnah Rasulullah untuk menjaga kemurnian keturunan adalah nikah. Setiap jomblo yang merasa dirinya telah siap dan sanggup untuk membina dan membangun rumah tangga disunnahkan baginya untuk nikah. Apalagi kalau level kepingin nikahnya sudah sampai memudharatkan, maka hukum nikahnya adalah wajib. 

Namun yang namanya kehidupan, tentu saja ketika bakal melakukan kebaikan seperti akad pernikahan ada saja hambatan yang membuatnya untuk mengundur niat sucinya. Salah satu hambatan yang sering menghantui kaula muda adalah permasalahan ‘mapan’.

Kata-kata belum mapan begitu menghantui kaula muda yang ingin melepas status jomblonya. Namun meskipun demikian, akhir-akhir ini seiring banyaknya pernikahan di usia muda yang dipopulerkan lewat media-media sosial seolah ada gerakan “ nikah aja dulu, nanti kita mapan bersama”

Nah, ketika kedua kata tersebut sekarang berbenturan, yaitu  ada yang memiliki prinsip “mapan dulu baru nikah” dan ada juga “nikah aja dulu, nanti kita mapan bersama”.

Sebagai jomblo yang terhormat, untuk bisa melepas diri dari benturan kata tersebut, tentu saja yang paling layak yaitu mari kita mengenal dan mengetahui lebih dalam arti dari kata mapan itu sendiri.

Mapan secara umum dikenal dengan telah berkecukupan dalam materi. Sehingga anjuran atau tidaknya nikah dalam dua prinsip yang berbeda tersebut adalah yaitu kita telah memiliki penghasilan dan uang yang cukup untuk mengajak seorang wanita menjadi pendamping hidupnya.

Namun mapan dalam arti tersebut terkesan sangat sempit. Penulis sendiri lebih menggunakan mapan kepada dua makna :

1. Mapan yang memiliki arti telah cukup secara finansial, materi, pekerjaan yang baik dan sebagainya.

2. Mapan dalam arti telah memiliki ilmu yang diperlukan untuk kebahagian dunia-akhiratnya serta memiliki mental yang siap untuk menghadapi tantangan setelah menikah.

Baca Juga: Aslinya Pacaran Bilangnya Ta'arufan

Mapan dalam arti pertama menurut penulis adalah sebuah alasan yang lemah untuk menunda pernikahan. Kenapa? Karena sejatinya rezki telah diatur oleh Allah. apalagi rezki setelah menikah. Dan tidaklah menikah kecuali menambah keberkahan rezki. Hal ini tentu saja selaras dengan firman Allah dalam surat an-Nur  ayat 32 yang artinya : “ dan kawinkanlah jomblo di antara kamu, dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba kamu dan budak wanitamu. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka kaya dengan karunia-Nya.” 

Dalam menanggapi ayat di atas, Ibnu Mas’ud mengomentari “ Carilah kekayaan dalam menikah!”

Nah dari ayat tersebut, tentu saja sebagai hamba yang yakin kepada ayat-ayat Tuhannya, kenapa kita harus merasa khawatir kepada rezki setelah menikah? Kalau Yang Maha Menciptakan dan Maha  Memberi Rezki telah menjaminya? Tidakkah Allah cukup sebagai tempat berserah diri?. 

Maka hemat penulis untuk mapan dalam arti yang pertama, kata-kata “ nikah aja dulu, nanti kita mapan bersama” sangat tepat dan memang layak untuk kita pegang. 

Adapun mapan dalam makna yang kedua, yaitu mencukupinya ilmu, tentu saja kalau ilmu tersebut adalah ilmu fardhu a’in, ilmu hal yang kita butuhkan sehari untuk berubudiyyah kepada Allah dan melakukan interaksi sosial yang sesuai anjuran syariat, agaknya kurang tepat kalau kita terburu-buru untuk menikah. Apalagi aktifitas dan kewajiban kita setelah menikah yang meminilisir kesempatan kita untuk mengumpulkan ilmu sebanyak ketika kita masih lajang. Beban dan tanggung jawab sebagai suami maupun istri tentu saja akan menyita waktu kita untuk menuntut ilmu yang dibutuhkan.

Beda halnya dengan ilmu-ilmu tambahan yang hukumnya fardhu kifayah, meskipun sedikit menghambat. Namun bagaimanapun itu tergantung pribadi kita sendiri. Kalau memang merasa sanggup mengoptimalkan rihlah keilmuannya bahkan makin sempurna setelah nikah, maka inilah sebaik-baik jalan yang harus kita tempuh.

Baca Juga: Romantika cinta Ali dengan fathimah zahra

Maka mapan untuk arti yang kedua, menurut penulis lebih cocok “mapan aja dulu, baru nikah!”. Ini semua adalah hasil dari pemikiran penulis setelah membaca beberapa sumber dari kitab klasik maupun kondisi kekinian. Tentu saja kita bebas untuk memilih mana yang terbaik untuk kita. 

JADI, UDAH MAPAN BELUM ?


Posting Komentar

0 Komentar