Mental Milenial Di Era 4.0



     *Oleh : M. Huzaifi Muslim* 

 Manusia sebagai makhluk paling sempurna yang diciptakan oleh Allah tentu saja mempunyai tanggung jawab terhadap nikmat yang telah diberikan kepadanya. Salah satu nikmat utama adalah akal, banyak penemuan-penemuan penting yang ditemukan karenanya. 

    Seiring berkembang dan bertambahnya ilmu pengetahuan, manusia mulai menciptakan mesin-mesin untuk mempermudah kegiatannya sehari-hari. Di era sekarang atau yang lebih dikenal 4.0, hampir semua kegiatan yang dulunya menggunakan banyak tenaga  bisa dikerjakan dengan mudah oleh robot-robot yang telah diprogam sedemikian rupa. Salah satu dampak dari kemajuan ini adalah diciptakannya media-media yang semakin mempermudah kita melakukan hubungan dengan orang-orang yang jauh. Kalau dulunya harus menulis surat dan pengiriman yang membutuhkan waktu yang sangat banyak, sekarang dalam hitungan detik telah sampai. Bahkan apapun informasi bisa diakses dalam waktu beberapa detik saja. 

Baca Juga: Yang hilang dari kajian kita: Mabady asyarah

Dalam memanfaatkan kemajuan tersebut, banyak generasi muda yang terjerumus di dalam kejahatan dan perbuatan mungkar. Sehingga mengakses sesuatu yang dilarang oleh agama seperti konten porno, jual-beli barang haram, judi yang dilakukan secara online dan sebagainya.

Hasil dari dogma-dogma jahat tersebut, ada beberapa ulama yang memilih untuk tidak menggunakan dan mengasingkan dirinya dari kemajuan zaman. Namun bagaimana dengan kita sekarang? Kehidupan sosial yang dijalani sekarang seolah tidak memberi keberanian dan peluang bagi kita untuk menarik diri dari segala bentuk kemajuan dan pergantian zaman. Kalaupun kita kerjakan seperti demikian, maka memilih untuk tinggal digunung dengan hewan-hewan liar mungkin satu-satunya pilihan terbaik saat ini.

Nah tentu saja dengan pemikiran yang lurus, kita harus sadar betul bahwa kemajuan dan alat-alat ataupun media yang tercipta hanyalah sebuah sarana. Bila kita bisa memanfaatkannya dengan baik, tentu akan mengantarkan kita ke surga Allah.  Kita ibaratkan seperti sebuah pisau yang bisa kita manfaatkan untuk kebaikan dan membantu pekerjaan rumah kita sehari-hari. Dan bisa juga menjadi hal buruk misalnya dipakai untuk melukai orang lain. Maka semua sarana yang tercipta sekarang tergantung kita bawa kemana dan kita pakai untuk apa.

Pada awal sejarah penciptaan manusia tejadi dialog antara Allah dan malaikat seperti yang dijelaskan di dalam al-Quran surat al-Baqarah ayat 30 :

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ 
Artinya: 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di muka bumi seorang khalifah". 

Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi tersebut orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"

 Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui"
Perhatikan bagaimana malaikat mengatakan kepada Allah bahwa manusialah yang akan merusak bumi, bukan bumi yang merusak manusia.

Dari pembicaraan antara Allah dan malaikat, dapat kita ambil sebuah hikmah bahwa bukan sarana ataupun kemajuan zaman yang merusak manusia, namun mereka yang tidak bisa mengontrol nafsulah yang membuatnya terjerumus dalam kejahatan. 

Mari kita belajar bijaksana dalam memanfaatkan kemajuan zaman, sehingga setiap gerak-gerik kita berbuah surga disisi-Nya. Amin

Posting Komentar

0 Komentar