Maqam Rasulullah Taman Surga Dunia

 


NGAJIKUY.ID | Sungguh beruntung mereka yang kelak di hari akhirat berkumpul bersama baginda Rasulullah saw. dalam surga, dan alangkah bahagianya jika kita telah memasuki taman surga di dunia yaitu raudhah, taman surga ahli ibadah di mana seorang manusia agung berada yaitu baginda nabi Muhammad saw., dan ditemani oleh dua sahabatnya yang mulia yaitu Saidina Abubakar ra. dan Saidina Umar ra.


Anjuran mengunjungi maqam Rasulullah saw. telah disepakati oleh sekalian ulama dan juga bersandar pada empat pondasi dalil hukum (Alquran, hadis, ijma', dan qiyas), tidak berbeda kesunnahannya terhadap orang yang dekat ataupun yang jauh.


Para ulama juga bersepakat bahwa terdapat fadhilah yang penting dalam menziarahi maqam Rasulullah saw disamping juga mendapat syafaat baginda dikemudian hari. Bagi orang yang bersih akal pikiran nya akan dapat menemukan ayat Al Quran perihal itu


Salah satu ayat yang menerangkannya adalah An-Nisa ayat 64:

وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا

Artinya: "Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 64).


Penjelasan ayat ini adalah ketika seseorang yang telah mendzalimi diri sendiri dengan lumuran dosa mengharapkan ampunan penerimaan, kemaafan, dan kemuliaan dari Allah Swt. dan agar taubatnya diterima adalah dengan mendatangi Rasul seraya memohon ampun di hadapannya. 


Dalam ayat di atas Allah kaitkan kalimat لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا dengan جَاءُوكَ artinya penerimaan taubat adalah dengan datang kepadanya tidak berbeda apakah ketika masih hidup atau tidak. Karena dalam ayat ini menjelaskan ketika kita datang kepadanya dalam keadaan bertaubat maka Rasulullah pun beristigfar memohon kepada Allah agar dosa kita terampuni. 


Meskipun ayat ini secara konteks sosio historis diturunkan karena ada peristiwa tertentu dan kejadian yang terjadi pada waktu itu namun lafadl dalam ayat itu masih bersifat umum maka boleh-boleh saja menerapkan teks ayat ini dalam hal yang lain sebagaimana dalam satu kaidah  Al ibrah biumumil lafdli la bisababil asbab artinya yang diperhatikan adalah sisi keumuman lafadl buka sisi kekhususan sebab.


Senada dengan ayat ini yaitu ayat dalam surat An-Nisa ayat 100:


وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

Artinya: "Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah." (QS. An-Nisa: 100).


Meskipun tidak ada nash kusus dalam ayat Al Quraan mengenai hal ini namun kita sangat meyakini bahwa pergi menziarahi rasulullah termasuk dalam hijrah apalagi berangkat dari tempat yang jauh seperti kita warga Negara Indonesia sebagaimana yang disebut dalam ayat di atas.


Maka dari itu nampaklah kelebihan dan keutamaan menziarahi maqam Rasulullah saw.


Kalam ibnu Katsir:


Al Hafidl Imaduddin syaikh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menerangkan mengenai firman Allah swt ( وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ) Syaikh Abu Mansur Ash Shabag bercerita dalam kitabnya Asysyamilul Hikayatil Masyhurah dari Al atabi “suatu hari ketika aku sedang duduk di samping maqam Rasulullah saw datanglah seorang penduduk pelosok Arab atau yang sering kita sebut arab badui ke maqam Rasul dan berkata:


"Assalamualaika ya Rasulallah! Sungguh aku telah mendengar Allah berfirman ( وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا) pada hari ini aku datang kepadamu dengan membawa dosaku dan mengharapkan doa dan istigfarmu semoga Tuhanku dan Tuhan mu mengampuni kesalahanku."


Kemudian dia mengucap sebuah syair:

يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِاْلقَاعِ أَعْظَمُهُ  #فَطَابَ مِنْ طِيْبِهِنَّ اْلقَاعُ وَاْلأَكَمُ

نَفْسِيْ اْلفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ # فِيْهِ اْلعَفَافُ وَفِيْهِ اْلجُوْدُ وَاْلكَرَمُ

"Wahai sebaik baik orang yang di kebumikan di lembah ini lagi paling agung.

Maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pengunungan ini.

Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya.

Di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan dan kemuliaan."


Selepas itu ia pun pergi dan aku tertidur, dalam tidurku aku melihat Rasulullah saw bersabda, “Wahai Attabi sungguh benarlah orang Badui itu maka berilah ia kabar gembira bahwa Allah Swt. telah mengampuninya.


Dikutip dari kitab Syafa`al-Fuad bi Ziarah Khairil 'Ibad, hal 9 s/d 11 karya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani


Oleh: Jazuli Abubakar

 

Posting Komentar

0 Komentar