Do’a Nabi Ibrahim as. dan Berita Taurat atas Kelahiran Nabi Muhammad saw.( Ngaji Kitab al-Wafa bi Ahwal Musthafa)

NGAJIKUY.ID | Saat Nabi Ibrahim membangun Ka'bah beliau berdoa untuk penduduk Makkah tempat beradanya kubus mulia itu:

رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ

"Ya Tuhan kami, utuslah kepada mereka seorang Rasul dari golongan mereka" (Al-Baqarah: 29).


As-Suddi meriwayatkan dari guru-gurunya bahwa Nabi yang dimaksudkan itu adalah Nabi Muhammad Saw.


Al-'Irbadh bin Sariyah berkata: "Rasululah bersabda, " Aku di sisi Allah adalah penutup para Nabi sedangkan Adam pada waktu itu masih bercampur dengan tanah. Akan kuberitahukan kalian tentang keberadaanku. Aku adalah d’oa Nabi lbrahim, kabar gembira Nabi Isa dan mimpi yang dialami oleh ibuku dan ibu-ibu para Nabi terdahulu."


Diriwayatkan pula oleh Laits, dari Mu'awiyah berkata, "Sesungguhnya ibu (Aminah binti Wahab) beliau melihat cahaya ketika beliau lahir yang menerangi seluruh istana negeri Syam."[1]


Melansir wikipedia.org pada saat ini Negeri Syam merujuk ke sejumlah tempat di Timur Tengah, di antaranya: Lebanon, Palestina, Yordania dan beberapa daerah di Suriah, sejumlah tempat dinegara ini memakai nama Syam yaitu: pertama, Bushra asy-Syam, yaitu kota administrasi Damaskus dan merupakan ibu kota distrik Hawran. 


Kedua, Damaskus, yaitu ibu kota dan kota terbesar di Suriah, dan ketiga Levant, wilayah Mediterania Timur, atau wilayah besar di Asia Barat yang dibatasi oleh Pegunungan Taurus di utara, Gurun Arab di selatan, Laut Mediterania di barat, dan Pegunungan Zagros di timur.

 

Kelahiran Nabi dalam Taurat

Kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan kepada Nabi Musa AS. Nabi Musa AS yang diutus oleh Allah untuk berdakwah kepada bangsa Bani Israil. Adapun bahasa yang digunakan adalah bahasa Ibrani.

 

Di antara dari tanda-tanda kenabian Nabi Muhammad Saw dalam kitab-kitab terdahulu adalah Firman Allah dalam bagian pertama Kitab Taurat kepada Nabi Ibrahim sebagai berikut:

قد أجبت دعاءك في إسماعيل وباركت عليه، وكثرته، وعظمته جدا جدا، وسيلد اثنى عشر عظيما، واجعله لأمة عظيمة".[2]

 

"Telah aku kabulkan doa Ismail dan telah aku memberkatinya. Aku perbanyak dan agungkan keturunannya (Ismail) dengan sebenar-benamya. Ia akan melahirkan dua belas orang yang mulia. Aku utus ia kepada umat yang agung pula."

 

Kemudian Allah berfirman kepada Nabi Musa tentang semua itu di dalam bagian kitab itu pula. Dikatakan bahwasanya Hajar pada saat pergi meninggalkan Sarah, ia di datangi oleh Malaikat dan berkata kepadanya:

"Wahai Hajar budaknya Sarah! Kembalilah engkau pada tuanmu. Taatlah padanya, maka aku akan memperbanyak keturunanmu sehingga tak terhitung jumlahnya. Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak yang kau beri nama dengan Ismail. Allah telah mendengarkan pengaduanmu. Suafu saat nanti, tangan anakmu itu akan berada di atas tangan-tangan yang lainnya. Tangan-tangan yang lain akan terbentang kepadanya dengan tunduk."

 

Ibnu Qutaibah berkata, "Renungkanlah perkataan ini. Di dalamnya terdapat dalil yang menunjukkan bahwa yang dimaksudkan di sini adalah Nabi Muhammad Saw. Karena tangan Nabi Ismail tidaklah berada di atas tangan Nabi Ishaq. Tidak pula tangan Ishaq terbentang kepadanya dengan tunduk pasrah. Bagaimana mungkin yang demikian itu terjadi sedangkan kerajaan dan kenabian berada pada anak keturunan Israil dan Al-Iyash. Keduanya adalah anak dari Nabi Ishaq. Ketika Nabi Muhammad Saw diutus, maka kenabian berpindah kepada keturunan Ismail. Para raja serta umat-umat pun tunduk kepadanya. Dengannya Allah menghapuskan semua syariat, dan menutup sekalian para Nabi. Allah menjadikan kepemimpinan serta kerajaan berada di tangan umatnya pada akhir zaman nanti. Tangan mereka menjadi berada di atas tangan-tangan seluruh umat. Seluruh tangan-tangan umat terbentang kepada mereka dengan tunduk dan patuh."[3]

.



[1]Al-Imam al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi, al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa, (Riyadh: Al-Muassisah al-Sa’udiyyah), h. 72, Pdf. Sambungan ayatnya adalah:

 يَتْلُوا عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ  إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

[2] Al-Imam al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi, al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa, h. 109.

[3] Al-Imam al-Hafizh Abdurrahman ibn Abi al-Hasan al-Jauzi, al-Wafa bi Ahwal al-Mustafa, h. 109-110.

Posting Komentar

0 Komentar