Catatan Sepanjang Malam

 


NGAJIKUY.ID | Tiba-tiba seseorang masuk ke bilik gang Barak, bilik kayu tempat biasa saya bermalam dan melepas penat.


Ternyata dia adalah seorang kawan yang baru saja pulang dari Tarim setelah kurang lebih dua tahun tak bersua.


“Assalamualaikum....”, ketuk pintunya menjeda obrolan malam kami yang entah pembicaraannya sudah sampai ke mana.


“Waalaikumsalam..”, jawab kami tidak serentak karena disibukkan oleh obrolan kami yang tidak searah dan sepaham.


Lantas dirinya masuk dab menghampiri kami berempat meski jarum jam hampir transit ke waktu subuh, lebih tepatnya jam 02.12 WIB.


Saya pribadi terkejut sekaligus linglung melihat perubahan yang begitu kentara ketika pertama kali melihatnya.


Di samping dari perubahan postur tubuh yang sudah agak berisi, yang lebih membuat kaget adalah ketika dia nimbrung untuk gabung dalam obrolan kami, tidak ada satu kalimat pun yang keluar dari lisannya yang menyinggung kami maupun orang lain.


Obrolan tadi masih berlanjut meski sempat terjeda oleh nostalgia kami yang telah sekian lama berpisah jasad walau chat dan komunikasi tetap jalan lewat WhatsApp. 


Jedanya karena kita hanyut dalam mengenang dan flashback kejadian-kejadian dulu yang ketika diceritakan kembali malah menjadi lucu.


Setelah sekitar 40 menit kita asik berbicara masa lalu dari mulai dibotakin kepala akibat tidak naik ngaji, disiram air ketempat tidur akibat tidak berjamaah subuh, berpikir masa depan dipojok terali lantai tiga, sampai berebut sisa air minum guru, lalu kita baru sadar bahwa tema yang kita bahas tadi masih tergantung, belum clear.


“Begitulah hidayah. Allah bisa saja memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan mengambil kembali hidayah kapan saja Dia mau”, timpal seorang kawan melanjutkan obrolan tadi.


“Lalu jika Allah mengambil dan memberi bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya, lantas apakah kita bisa memohon kepada Allah untuk terus menerus berada dalam hidayah-Nya atau tidak?”


Tanya kawan ku yang lain. Dari rawut wajahnya sangat keliatan bahwa dia berada dalam ketakutan karena persoalan di atas.


Ada sebuah doa yang aku dengar dari guruku perihal itu. Doa untuk tetapnya hidayah dalam diri kita dan tidak dihilangkan dalam dada. Kira-kira seperti ini bunyinya. Aku mencoba menjawab persoalan tadi:


‎رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ

"Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)."


“Wah…itu doa yang sangat bagus dan dalam sekali maknanya” teman yang lain menimpali.


Bagaimana tidak, padahal dalam doa itu ada dua poin utama yang terkandung di dalamnya.


Pertama kita memohon kepada Allah agar Allah tidak menyesatkan kita setelah diberi hidayah dan mengekalkan hidayah-Nya sampai akhir hayat.


Kedua kita memohon agar Allah senantiasa mencurahkan kasih sayang nya kepada kita semua.


Karena kita semua tau seberapa besarnya kasih sayang manusia kepada kita, tapi jika tidak mendapat rahmat dari Allah maka kasih sayang manusia tidak lah berarti apa-apa.


Setelah kami berdiskusi panjang lebar dan alot, tiba-tiba sahabat yang tepat berada di samping saya mengarahkan telunjuknya ke arah jam sambil berkata.


“Hei lihat lah jam itu! tanpa sadar kita telah menghabiskan malam ini beberapa jam di sini sampai kita mengabaikan perjalanan jam yang hampir tiba waktu subuh”.


Ternyata obrolan renyah nan santai kami tadi lumayan banyak menyita waktu, ketika kami berempat lihat jam ternyata sudah menunjuki jam 04.45 atau 15 menit menuju waktu subuh.


Alhamdulillah meskipun malam ini kita tidak sempat tidur awal dan malah bergadang sepanjang malam, namun insyaallah malaikat tidak tidur sekaligus tidak lupa mencatat pahala baik atas diskusi ringan kami. Salah satu dari kami menutup obrolan.


“Alhamdulillah alaa kulli haal, insyaallah di lain waktu dan kesempatan kita diskusi lagi persoalan-persoalan serperti ini” jawabku menimpali dan diiringi oleh persetujuan dan anggukan yang lain sambil beranjak dari bilik gang Barak untuk shalat subuh.


Baiklah untuk menutup diskusi kita pada malam ini, izinkan aku mengutarakan beberapa kalam hikmah Arab yang berkenaan dengan berbicara.


‎ﺧَﻴْﺮُ ﺍﻟﻜَﻠَﺎﻡِ ﻣَﺎ ﻗَﻞَّ ﻭَﺩَﻝَّ 

"Sebaik-baik perkataan adalah yang sedikit dan mengena."

‎ﺗَﻜَﻠَّﻢْ ﻓَﻘَﺪْ ﻛَﻠَّﻢَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﻮْﺳَﻰ 

"Berbicaralah, karena Allah telah berbicara dengan Musa."

‎ﻋَﺜْﺮَﺓُ ﺍﻟﻘَﺪَﻡِ ﺃَﺳْﻠَﻢُ ﻣِﻦْ ﻋَﺜْﺮَﺓُ ﺍﻟﻠِّﺴَﺎﻥِ 

"Tergelincirnya kaki lebih selamat dari tergelincirnya lisan."



Oleh: Jazuli Abubakar


Posting Komentar

0 Komentar