Mengenal Gelar-Gelar Fathimah binti Rasulullah saw., dari al-Zahra` hingga al-Batul

 



NGAJIKUY.ID | Namanya Fathimah al-Zahra`, putri cantik penghulu segala ciptaan paling mulia di kalangan manusia dan jin. Kehadirannya menjadi anugerah yang amat besar bagi manusia seluruh alam, lebih-lebih wanita. Kesederhanaannya menyelamatkan mereka daripada sifat rakus. Darinyalah lahir zuriyyah-zuriyyah baginda.

Kemarin, 2 Februari 2021 M / 20 Jumadil Akhir 1442 H, umat Islam tampak semarak memperingati hari lahirnya Sayyidatuna Fathimah al-Zahra rha. Tanpa serimonial meriah memang, tapi lantunan ta’dhim dan doa selalu terpanjatkan kepada putri penghulu alam itu.

Sayyidah Fatimah lahir Jumat, 20 Jumadil-Akhir di Makkah, lima tahun sebelum kenabian. Jika mengikut pendapat yang masyhur menyatakan bi’tsah Nabi 13 tahun sebelum hijrah, maka pada tahun ini yakni 1442 hijriah, kelahiran Fathimah adalah 1460 tahun yang lalu.

Tentang wafatnya, ada silang pendapat di antara ulama. Tetapi yang paling kuat adalah pendapat al-Madaini, al-Wafidi, dan Ibnu Abdil Bar yang menyebut bahwa wafatnya Sayyidah Fathimah pada malam selasa bulan Ramadhan tahun 11 H pada umur 29 tahun.

Nama Fathimah diberi atas dasar ilham kepada Nabi SAW. Al-Dailami  meriwayatkan daripada Abi Hurairah ra dan Hakim daripada Ali ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:

إنما سميت فاطمة لأن الله فطمها و حجبها عن النار

"Sesungguhnya aku menamai Fathimah, supaya Allah menghijabnya dari api neraka”.

Kata Fatham diambil dari al-qatha’ yang berarti memutuskan. Seperti kalam Arab “Fathama al-Shabi” yang berarti bayi telah memutuskan susuan ibunya. Maksud dalam konteks ini Fathimah telah dibebaskan dari api neraka.

Banyak gelar disematkan kepada Fathimah, tetapi al-Zahra’ paling populer terdengar di kalangan muslimin. Lantas apa arti al-Zahra’ dan kenapa Fathimah digelar al-Zahra’?

Ditemukan tiga pendapat tentang gelar al-Zahra’. Pendapat pertama menyebut karena Fathimah adalah zahrah al-Musthafa (bunganya Rasulullah SAW). Pendapat kedua menyebut karena dirinya berkulit putih laksana bunga. Pendapat pertama dan kedua ini tidak diketahui sumbernya secara pasti (artinya yang memberi pendapat).

Adapun pendapat ketiga diriwayatkan daripada Ja’far bin Muhammad bin Ali ra bahwa ayahnya (Ja’far yakni Muhammad) berkata:


سألت أبا عبد الله عليه السلام عن فاطمة: لم سميت الزهراء؟ فقال: لأنها كانت إذا قامت في محرابها يزهر نورها لأهل السماء كما يزهر نور الكوكب لأهل الأرض

Artinya: Aku menanyakan Rasulullah SAW tentang Fathimah: Kenapa engkau namai dengan al-Zahra`? Beliau bersabda: Karena apabila dia berdiri pada suatu tempat, teranglah cahayanya bagi penduduk langit sebagaimana terangnya cahaya bintang bagi penduduk bumi”.

Selain al-Zahra`, ada gelar-gelar lain juga disematkan kepada Fathimah. Hal itu menunjukkan kemuliaannya. Gelar-gelar itu yakni al-Shiddiqah (yang jujur), al-Mubarakah (yang diberkati), al-Thahirah (yang suci), al-Zakiyyah (yang pintar), al-Radhiyyah (yang rela), al-Mardhiyyah (yang direlakan), Al-Muhadditsah (pakar hadis), al-Batul (yang terputus), dan Umm Abiha (ibu dari bapaknya).

Gelar-gelar di atas sesuai dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Fathimah. Adapun al-Batul secara leksikal juga berarti qatha’a yakni terputus. Terputus di sini dimaksudkan dua arti: Pertama terputus dari asasi (sifat dasar) wanita pada umumnya atau dikatakan berbeda dari mereka dari kecantikan, kelebihan, dan kemuliaan. Kedua, terputus yang dimaksudkan dengan al-inqitha’ ilallah yakni telah memutuskan ketertarikan kepada selain Allah dan hanya menghadapkan diri kepada Allah semata.

Disebutkan dalam kitab Taj al-Arus bahwa Fathimah digelar dengan al-Batul karena tasybih (menyamakan) dengan Maryam rha (ibunda Isa as).

Gelar yang lain bagi Fathimah adalah Umm al-Nabi atau Umm Abiha (ibu ayahnya). Para penafsir dalam kitab-kitab mereka mencoba menafsirkan maksud gelar ini sehingga lahir beberapa pendapat:

1.    Gelar ini diberikan karena Fathimah putri bungsu Rasululah SAW. Sepeninggal Khadijah rha, hanya Fathimah yang menemani Rasul.


2.      Walaupun pada wiladah (kelahiran) Fathimah adalah putri Nabi SAW tetapi secara risalah (ajaran) Fathimah adalah ibu Nabi SAW. Artinya, Fathimah adalah sosok yang mengandung risalah sampai akhir masa. Dari Fathimahlah lahir para zurriyat-zuriyat yang akan melanjutkan risalahnya. Karena itulah sebab cinta yang sangat mendalam dari Rasulullah kepada putrinya itu.


3.    Nabi SAW lahir dalam keadaan yatim, beliau lahir tanpa pernah melihat ayahnya. Kemudian berlanjut kewafatan ibunya padahal beliau berusia kecil. Fathimahlah yang pertama kali dijumpainya tatkala berkunjung ke Madinah. Pada saat ibu Nabi yakni Aminah binti Wahab wafat, Rasulullah tinggal di rumah Abu Thalib dan diasuh oleh Fathimah binti Asad, Rasulullah begitu akrab dengannya, sehingga memanggilnya “ya ummah”. Ketika Fathimah binti Asad meninggal, Rasulullah merasa sangat sedih dan terpukul. Lalu Allah mengaruniai bagi putri bernama Fathimah (nama ini atas ilham Allah SWT). Tatkala beliau melihatnya, teringatlah Fathimah binti Asad dan selalu merasa terhibur atas kehadirannya. Sehingga memberi gelar dengan Umm Abiha seperti panggilannya kepada Fathimah binti Asad. 

Dari uraian di atas diketahui bahwa secara keseluruhan Fathimah memiliki 10 (sepuluh) gelar, yaitu:

1.     Al-Zahra`

2.     Shiddiqah

3.     Al-Mubaraqah

4.     Al-Thahirah

5.     Al-Zakiyyah

6.     Al-Radhiyyah

7.     Al-Mardhiyyah

8.     Al-Muhadditsah

9.     Umm Abiha

10.   Al-Batul


Oleh: Muhammad Abrar

Disarikan dari kitab Innaha Fathimah al-Zahra` karya DR. Muhammad Abduh al-Yamani, (Damaskus: Al-Manar, 1996), h. 27-29 dengan sedikit penambahan pada beberapa tempat.


Posting Komentar

0 Komentar