Tashil al-Thullab; Metode Belajar Praktis Dayah Era Modern



NGAJIKUY.ID | Dapat dilihat bahwa semakin hari dayah semakin responsif terhadap perubahan zaman. Zaman yang modern dan ekspres menuntut setiap kalangan bergerak cepat dan sigap. Dayah tidak tertinggal dalam menyikapi perubahan ini. Ia telah berbenah dari berbagai sisi, termasuk dalam menerapkan sistem pendidikan yang praktis tetapi efektif dan berkualitas.


Hal ini dibuktikan oleh MUDI Mesjid Raya, Samalanga. Di antara banyaknya dayah di Aceh, MUDI telah “unjuk gigi” menciptakan gebrakan-gebrakan baru. Banyak gebrakan khususnya bidang pendidikan telah diciptakan demi mewujudkan pendidikan dayah yang kompetitif dan maju. Setelah melahirkan dua pendidikan tinggi berupa IAI (Institut Agama Islam) Al-Aziziyah dan Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya, Samalanga, kini MUDI berhasil menciptakan sebuah sistem belajar praktis dan sistematis untuk memudahkan membaca dan memahami kitab gundul (kitab Arab tanpa baris).


Dapat dimaklumi bahwa membaca kitab gundul bukan urusan mudah, belum tentu semua pelajar Islam mampu melakukannya bahkan pelajar-pelajar di perguruan tinggi Islam. Banyak dari mereka mengambil jalan pintas merujuk terjemahan-terjemahan kitab Arab musabab tidak kompeten membaca kitab asalnya. Tidak heran memang, karena kemampuan membaca kitab gundul butuh kepada penguasaan ilmu-ilmu alat seperti nahwu dan sharaf yang memadai, yang kadang tidak disanggupi oleh semua pelajar.


Sebab itu, MUDI sebagai dayah salafiyah tetap mempertahankan konsep pendidikan dengan menjadikan kitab Arab klasik sebagai referensi dan bahan kajian. Nahwu dan sharaf yang menjembatani maksud tersebut tentu menjadi kajian perdana dan primer. Tidak boleh tidak kedua fan ini perlu dikuasai secara mendalam, sehingga keduanya masuk dalam kurikulum dayah sebagai fokus utama bagi santri pemula.


Tashil al-thullab dipilih sebagai metode baru yang diterapkan MUDI dalam memudahkan nahwu dan sharaf. Kata “tashil” berasal dari kata sahlah yang artinya memudahkan sedangkan al-thullab adalah bentuk jamak dari kata “thalib” yang artinya pelajar. Sehingga dapat diartikan metode ini adalah metode dalam memudahkan para pelajar.


Training Metode Tashil al-Thullab

Untuk tahun ajaran 2021-2022 ini, MUDI berkomitmen menerapkan metode tashil al-thullab bagi santri baru. Dalam menerapkan metode ini, bagian kurikulum yang tergabung di bawah seksi pendidikan muadalah aliyah MUDI Mesjid Raya, Samalanga ditunjuk sebagai panitia pelaksana dan penanggung jawab. Atas kesepekatan musyawarah, bagian kurikulum merekrut para guru dari kelas 7 hingga kelas takhassus MUDI yang bersedia menjadi guru pembina.


Dalam rangka mengabulkan keinginan hati, saya pun ikut mendaftarkan diri dalam program ini dengan mengikrar dua persetujuan, yakni pertama, para peserta harus mengikuti training selama tiga hari yakni 2, 3, dan 4 April 2021. Kedua, semua peserta bersedia menjadi guru pengajar selama 30 hari yang dimulai pada Syawal 1442 H (bertepatan Mai 2021). Tidak perlu berpikir lama, saya lantas mengabulkan dua persetujuan ini dan akhirnya resmi menjadi peserta.


Pada waktu yang telah disepakati, dibuatlah training yang diberi tema “Training perdana tashil al-thullab; metode mudah membaca kitab kuning.” Pada awal pertemuan yaitu 2 April 2021, barulah saya menyadari bahwa cukup banyak peserta yang ikut hadir. Berdasarkan daftar hadir yang ditanda tangan secara bergilir, saya melihat jumlah keseluruhan peserta sebanyak 150 orang. Ternyata selain saya, banyak juga peserta lain ikut berpartisipasi.


Untuk materi metode tashil, ada dua buku sebagai rujukan yang dibagikan percuma kepada peserta. Kedua buku tersebut merangkum seluruh materi tashil al-thullab yang disajikan dengan tabel dan skema yang diberi warna variatif sehingga tampak menarik. Satu buku khusus dengan materi dalam bentuk tabel dan skema, sedangkan satu buku lainnya berisi nadham atau syair-syair dalam bahasa Indonesia dan Aceh yang disusun sedemikian rupa.


Metode ini diadopsi dari kitab nahwu dan sharaf seperti Awamil, Al-Jurumiyyah, Matan Bina, Alfiyah Ibnu Malik dan beberapa kitab lainnya. Hanya saja yang fungsi  metode ini adalah menawarkan penyajian yang lebih singkat, mudah dan menyenangkan sehingga cocok bagi pelajar pemula yang biasanya didominasi oleh pra remaja.


Syair-syair berbahasa Indonesia dan Aceh tersebut berisi materi nahwu dan sharaf. Pemateri mencontohkan cara membaca syair-syair itu dengan irama lagu “pok-pok moto ijo” hingga irama shalawat yang sedang ngetrend akhir-akhir ini. . Saya nampak canggung membaca beberapa bait demi bait karena baru mendengar dan belum bisa menguasai dengan baik. Untung saja perserta cukup ramai sehingga suara saya tenggelam di antara suara peserta lainnya.


Tujuan dari training tersebut adalah pembekalan materi serta teknik dalam mengajar metode tashil al-thullab. Karena selain materi, teknik pengajaran tidak kalah pentingnya. Kadang dalam mengajar bukan materi yang salah tetapi cara menyampaikannya. Sebagaimana satu pepatah Arab menyebut: Al-maddatu muhimmah, walakin al-thariqah ahammu min al-maddah (materi pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi metode pembelajaran jauh lebih penting.” Hal ini berbanding tak ubah seperti orang menyuap nasi bayi, kadang yang salah bukan nasinya, tetapi metode yang dipakai oleh penyuap tidak tepat. Harusnya nasi untuk bayi perlu dilembekkan agar mudah dimakan tanpa alat pegunyah, jika yang disuap adalah nasi utuh tentu bayi tidak bisa makan di samping juga mendatangkan bahaya.


Tujuan yang Ingin Dicapai

Dalam kata sambutannya, tim tashil al-thullab menyampaikan bahwa tujuan penerapan metode tashil al-thullab karena masih banyak santri pemula yang kesulitan mempelajari gramatikal bahasa Arab ketika dihadapkan dengan istilah baru yang belum mereka pahami. Tashil al-thullab mencoba menawarkan formula baru yang ramah bagi santri pemula sehingga materi dasar nahwu dan sharaf mudah dipahami, dihafal dan diaplilkasikan dengan baik dan benar.


Selain bagi santri, metode ini juga bermanfaat bagi peserta yang akan menjadi pembina. Dari pembekalan materi dan teknik akan lahir guru-guru sebagai regenerasi berjiwa pendidik dalam menerapkan metode praktis membaca kitab kuning. Tentu bekal ini sangat berguna untuk jangka yang panjang.


Atas beberapa keistimewaan dan maksud di atas, maka metode mudah membaca kitab kuning seperti tashil al-thullab perlu diterapkan dalam pendidikan dayah mengingat dayah hari ini dituntut berkompeten dan sigap seperti disampaikan di awal. Lebih jauh lagi, kemampuan ini perlu dikuasai semua pelajar Islam, Karena kemampuan membaca kitab Arab sebagai referensi keilmuan Islam yang mendasar sangatlah penting. Hal ini bertujuan meminimalisir keterikatan pelajar Islam pada terjemahan yang tidak tertutup kemungkinan adanya kekeliruan penerjemahnya. Sangat perlu bagi kita merujuk kitab asli agar data yang diperoleh benar-benar akurat dan bisa dipertanggungjawabkan dalam khazanah keilmuan. Wallahu a’lam bisshwab.


Oleh: Muhammad Abrar

Penulis adalah lulusan program study Marhalah Ula (M1) Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya Samalanga - Aceh


Posting Komentar

0 Komentar