Tiga Apostel Antiokh



NGAJIKUY.ID | Ini bukan cerpen, atau dongeng. Bukan fiksi, bukan cerita dibuat-buat. Melainkan kisah nyata yang terjadi cukup silam, beberapa abad sebelum adanya penanggalan Hijriah. Sebuah cerita yang, bagi kalangan elit ulama dan cendikia Islam (dan mungkin juga semua agama samawi), sangat terkenal. Namun agaknya tak masyhur di sekitaran awam dewasa ini.

Masanya adalah saat Nabi Isa as. diangkat ke langit oleh Allah. Seorang pengkhianat yang romannya telah diubah menyerupai Nabi Isa, diburu oleh orang-orang untuk kemudian disalib di alun-alun kota. Hari itu selanjutnya diingat sebagai hari penting bagi umat Kristen.

Beberapa waktu ketika keadaan telah mereda, Nabi Isa sempat kembali turun ke Bumi untuk memberikan tugas penting kepada para sahabat.

Ada 12 orang. Mereka adalah pengikut paling setia. Alquran, di beberapa ayat, menyebut mereka sebagai Hawariyyun. Merekalah 12 apostel Nabi Isa yang selalu mendengar dan melaksanakan perintah tanpa tanya dan bantah.

Ke-12 apostel masing-masing mendapatkan tugas menyebar agama tauhid untuk melanjutkan dakwah nabi Isa. Mereka diperintah menyebar ke berbagai penjuru. Setelah Nabi Isa kembali naik ke langit, beberapa apostel tampak bertolak ke utara, selatan, timur, dan barat. Semua berpencar ke arah yang berbeda dengan tujuan sama: menyeru sembah kepada Tuhan esa.

Ada 3 apostel yang menuju ke Antiokh: Syam’un (Simon), Paulus, dan Yohana (Yohanes). Antiokh atau Antaqiyyah, adalah sebuah perkampungan di sebelah utara Suriah, tepatnya di sekitaran laut tengah. Hari ini termasuk ke dalam wilayah selatan negara Turki. Kabar burung mewarta bahwa syariat sama sekali belum sampai ke sana. Orang-orang sana kebanyakan penganut aliran pagan.

Partama-tama, Paulus dan Yohana yang berangkat. Karena menimang-nimang dua saja sudah cukup membawa dakwah. Mereka berjalan ke Antiokh yang katanya dipimpin oleh seorang raja bernama Antikhos.

Memasuki perkampungan, kedua apostel langsung menyebar dakwah. Orang-orang kampung dikenalkan dengan ajaran tauhid. Bahwa hanya ada satu tuhan yang pantas dan layak disembah. Ialah Allah. Bukan patung-patung pagan.

Penduduk kampung yang memang penyembah berhala serta-merta menolak ajakan dan ajaran tauhid. Itu sama sekali bertabrakan dengan kepercayaan yang diturunkan dari moyang-moyang selama ini. Mereka mulai resah dengan dakwah-dakwah apostel yang dianggap mengancam tuhan-tuhan dan sesembahan pagan. Yang karena itu, melalui desas-desus, akhirnya sampai juga berita ini pada Raja Antikhos.

Raja Antikhos adalah penganut paganisme yang taat. Begitu mendengar berita pembawa ajaran baru, spontan ia memerintah prajurit untuk menangkap. Seolah menemui jalan buntu, Paulus dan Yohana yang malang hanya bisa pasrah ditahan kerajaan dan harus mendekam dalam penjara. Tanpa pengadilan.

Kabar dua pembawa ajaran tauhid dipenjara oleh raja sampai juga pada Syam’un. Setelah berpikir baik-baik, ia memutuskan menyusul kedua temannya ke Antiokh. Tentu saja dengan rencana-rencana matang. Ia tak mau salah langkah dan berakhir di penjara seperti Paulus dan Yohana.

Syam’un pergi sendirian ke Antiokh. Baru saja memasuki pinggiran kampung, ia bertemu dengan seorang pengembala domba. Langsung saja Syam’un menjalankan rencananya dengan berpura-pura menjadi dokter, bukan pendakwah.

Tak lama ia terlibat percakapan dengan sang pengembala. Agak lama bercakap, tahulah sang pengembala yang ternyata bernama Habib, bahwa orang yang sedang berdialog dengannya ternyata seorang dokter. Ia lantas mengadu-ngadu kepada Syam’un perihal anaknya yang sakit parah sekarat.

“Anakku, tak bisa berjalan. Lumpuh. Ia masih hidup, tapi tak pernah bangun untuk benar-benar sadar bahwa ia masih hidup. Tolonglah Tuan. Aku tak punya harta banyak, melainkan berharap kerendahan hati Tuan.”

Syam’un, dengan permohonan Habib, menuju ke rumah gubuk tua yang kapan-kapan bisa saja roboh. Masuk ke rumah itu hanya membuat Syam’un bergeming melihat kondisi anak Habib. Benar-benar kritis. Ia lalu membaca doa-doa. Merapal ayat-ayat. Memohon pinta pada Allah. Menyembuhkan anak malang itu dengan bibir yang mengucap-ngucap.

Habib hanya tercengang melihat kelakuan dokter di depannya. Lebih tercengang lagi saat sadar bahwa anaknya berangsur pulih. Sungguh betapa Habib tak menduga hal ajaib ini bisa terjadi. Anaknya, yang semula lumpuh dan tergeletak di atas ranjang, sekarang siuman dan bisa berdiri kemudian berjalan. Benar-benar takjub Habib atas kehebatan Syam’un.

Lalu, Syam’un memperkenalkan diri untuk kedua kalinya. Tapi kali ini sebagai seorang utusan. Yang membawa pesan tentang ajakan menyembah Dia yang menyembuhkan. Tentu saja Habib, setelah melihat langsung keajaiban itu, langsung beriman dengan Tuhan. Ia serta-merta bertauhid dan menjadi awal dari dakwah Syam’un.

Mulai saat itu, Syam’un secara perlahan tapi pasti, dikenal oleh orang-orang kampung sebagai tabib mujarab. Tak ada satu penyakit pun yang tidak sembuh setelah berobat padanya. Mulai dari demam tinggi, flu, ambien, muntah mencret, pincang, buta, tuli, bahkan sampai penyakit sopak pun bisa disembuhkan. Sebelum kedatangannya, jangankan menyembuhkan, tak ada seorang pun bisa menangani penyakit yang satu ini. Mungkin itulah yang membuat ia semakin dikenal luas dan karenanya, diterima oleh masyarakat Antiokh.

Secara cepat, berita tabib mujarab sampai pada Raja Antikhos. Dan Syam’un pun, seperti yang telah direncanakan, akrab cepat dengan penguasa penganut ajaran pagan itu. Lama-lama, Syam’un pun diangkat sebagai dokter kerajaan sekaligus penasehat raja.

Butuh waktu beberapa lama untuk Syam’un menyesuaikan diri dengan kedudukannya sekarang. Hingga setelah semuanya terkendali, dan kepercayaan Raja Antikhos ia dapati, barulah ia mengungkit masalah dahulu.

“Aku dengar dulu pernah ada dua orang menyeru sembah pada Tuhan esa, benarkah Raja?”

“Ya, dan mereka langsung kupenjara.”

“Jadi apa yang mereka serukan sehingga membuat mereka mendekam penjara?”

“Aku tak sempat bertanya. Mereka jelas pembawa aliran sesat.”

“Tapi bukankah tak ada salahnya kita bertanya?”

“Hmm, Kau penasehatku. Nasehatmu selalu berbuah baik. Aku akan perintahkan pengawal memanggil mereka.”

“Terima kasih sanjunganmu, Raja agung.”

Paulus dan Yohana sontak kaget tiba-tiba mereka dibawa pengawal menghadap raja. Kemudian untuk kali kedua, mereka kaget lagi melihat orang di samping raja. Tapi mereka pintar membaca keadaan. Yang harus mereka lakukan adalah menjawab pertanyaan raja. Keduanya mencoba mengatur napas. Dan dialog dimulai.

“Sebenarnya, kalian siapa?”

“Kami adalah utusan Isa.” Paulus menjawab singkat.

“Apa yang kalian bawa?”

“Kami mengajak penduduk Antiokh menyembah Tuhan yang menciptakan kami, raja, dan kita semua. Dia pencipta langit dan bumi. Bulan dan matahari.”

“Aku tak percaya selagi tak ada bukti.”

“Tuhan kami memberi kemampuan kepada kami. Kami bisa menyembuhkan orang sakit.”

“Benarkah? Buktikan!” Raja Antikhos menyuruh pengawal menghadirkan seorang yang sakit sopak.

“Buktikan!” Ulang Raja Antikhos menantang.

Paulus bersama Yohana kemudian menengadah tangan seraya merapal doa-doa. Tanpa diketahui raja, Syam’un pun membantu berdoa dalam hati. Kulit-kulit sopak pada orang di depan mereka pelan-pelan berubah normal. Ia pulih. Mulut-mulut dalam istana ternganga. Takjub pada hal ajaib di hadapan. Raja Antikhos tak kurang terperangah. Lantas mengedip-ngedip mata beberapa kali.

Raja Antikhos memang benar-benar penyembah tuhan-tuhan pagan yang setia. Ia masih meragu tentang apa yang baru saja dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Benar-benar keras kepala. Sangking kerasnya, ia mengajukan tantangan yang menurutnya, tak akan mungkin mampu diterima para apostel.

“Aku akan beriman setelah kalian menghidupkan orang mati.”

“Allah maha menghidupkan, maha mematikan.” Sahut Paulus singkat.

Selang beberapa saat, pengawal dengan air muka yang agak jijik, membopong mayat busuk. Baunya sangat menusuk ke semua hidung-hidung istana. Bahkan Raja Antikhos pun terpaksa tutup hidung.

Dengan bau busuk dan tanah-tanah yang melekat pada mayat, bisa diketahui ia sudah pernah dikubur. Mungkin sudah tiga hari, atau lebih. Tak ada beda lagi mana kulit, daging, dan tulang. Tengkoraknya sudah hampir kosong. Tidak ada lagi pupil mata. Tampak mengenaskan.

“Silakan!” Raja Antikhos menyilakan tantang.

Paulus mulai kembali menengadah. Diikuti Yohana. Syam’un juga berdoa dalam hati. Cukup lama sebelum muncul takjub-takjub istana. Mata mayat mulai berair. Kemudian bergetar membentuk pupil. Daging-dagingnya kembali berisi. Dan ia, mayat yang sudah mati dan dikubur beberapa hari, dengan izin Allah, hidup kembali.

Begitu kesadarannya kembali, mayat itu berteriak sekeras-kerasnya. Sekencang-kencangnya. Membuat sekitaran menutup telinga, pekak. Ia menatap raja dan berteriak lebih kencang.

“Aku. Aku disiksa. Disiksa dengan sangat. Sangat-sangat pedih. Benar-benar pedih. Tak ada yang lebih pedih selain pedih siksa mereka. Mereka, dua makhluk. Sosok tinggi nan besar. Mencambuk tanpa ampun. Aku terpelosok ke lapisan bumi paling dalam. Sakit sekali. Mereka mencongkelku ke tempat semula. Dan kembali mencambuk lagi. Sungguh sakit sekali. Begitu. Hanya begitu setiap waktu. Aku penyembah berhala. Sama seperti kalian dan moyang-moyang. Dan aku diusut karena itu.”

Suasana begitu mencekam orang-orang. Tak terdengar sepatah kata pun selain desahan napas ketakutan.

“Siapa kau?” Akhirnya Raja memecah kesunyian.

“Kau. Kau berada di alam kelam. Hitam pekat. Aku melihatmu di sana. Meringkuk ketakutan dan sendirian. Lantas. Lantas ada dua. Tidak, tiga. Benar, ada tiga cahaya berdatangan. Ketiganya berusaha menarikmu keluar dari gulita. Sungguh, demi apapun. Berikan tanganmu kepada mereka. Kau pasti akan selamat.”

Raja Antikhos yang masih terperangah mengendalikan perasaan. Dengan cepat berusaha mencerna ucapan dan peringatan itu. Lalu akhirnya sadar kalau apostel-apostel itulah yang dimaksud dengan cahaya. Tapi…

“Tapi… Jika mereka adalah cahaya itu. Sungguh aku hanya melihat dua. Bukan tiga.”

“Aku wahai Raja.” Syam’un yang dari diam saja akhirnya membuka suara. “Aku adalah yang ketiga.”

Dan Raja Antikhos, dengan segenap orang-orang sekitar, akhirnya menerima ajakan, meninggalkan pagan, dan mulai menyembah sebenar-benar Tuhan.

Begitulah dalam dakwah penyebaran keyakinan, tetap kerap dengan banyak sekali cobaan, rintangan dan tantangan. Tapi sedikit sekali yang beriman. Memang sudah begitu sebelumnya sejak nabi Adam, dan akan terus seperti itu setelahnya hingga nabi Muhammad.

Dengan segala upaya yang dilakukan, mukjizat yang ditampakkan, dan bukti yang disuguhkan, orang-orang yang beriman kepada apostel-apostel tetap saja sedikit. Hanya didominasi oleh golongan raja dan petinggi kerajaan. Sedangkan sebagian besar orang-orang Antiokh masih ingkar.

Syam’un, Paulus, dan Yohana, dengan segala konsekuensi ancaman, tetap menyebar ajaran tauhid. Kaum Antiokh sangat keras kepala. Mereka tidak mau menerima ajaran tauhid, dan menentang ketiga apostel. Mereka mengancam, jika saja para utusan itu tidak mau berhenti, maka akan dirajam dengan batu.

Habib (An-Najjar), seorang pengembala kambing yang pertama kali ditemui Syam’un ketika memasuki Antiokh, saat itu sedang bersemedi menyembah Allah dalam gua. Perilaku orang-orang kampungnya yang menolak mentah-mentah ajakan apostel-apostel sampai juga padanya. Ia lantas bergegas menuju alun-alun demi memberi persaksian.

“Wahai kaum-kaumku. Ikutilah utusan-utusan itu!”

Habib tahu betul orang-orang Antiokh sangat materialis. Mereka tipe orang yang suka menumpuk harta. Karenanya ia menyuarakan, “Ikutilah mereka yang sama sekali tidak minta upah apa-apa dari harta-harta kalian! Mereka adalah orang-orang yang terpentunjuk.”

Habib lalu bersaksi,

“Tidaklah pantas bagiku dan kita untuk tidak menyembah Zat yang telah menciptakan dan kepadanyalah kita kembali. Mengapa pula aku menyembah selainNya? Jika Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, maka syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagiku dan mereka tidak pula dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku, kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkan persaksianku ini!”

Yang terjadi selanjutnya, Habib dibunuh oleh orang kampungnya sendiri.

Habib mati sebagai syahid. Dikatakan padanya, “Masuklah kamu ke surga.” Habib menyayangkan, “Seandainya saja kaumku tau apa yang membuat aku masuk surga.”

Kisah di atas telah diabadikan dalam Alquran pada Surat Yasin ayat: 13 hingga 32. Orang-orang Antiokh itu, setelah membunuh Habib, perkampungan mereka hancur. Seperti tersapu begitu saja. Mereka benar-benar tak pernah belajar dari kesalahan nenek moyang. Berapa banyak sudah kaum-kaum sebelum mereka yang dibinasakan karena saat utusan datang membawa tuntunan, mereka malah mengancam membunuh.

Oleh: Fadhil Mubarak Aisma

Reff:

Tafsir Surat Yasin dalam Tafsir Mafatih al-Gahib, asy-Syaikh Fakhruddin Arrazi.

Buku Sang Penyeru, Sejarah Periode Para Rasul dan Bani Israel, Ibn Ismael.

Posting Komentar

0 Komentar