Bagi Santri, Hari Raya Belum Terlalu Menyenangkan Dibanding Hari Pulang Kampung

 



NGAJIKUY.ID | Berhubung Iduladha semakin dekat, saya berinisiatif membuka bab shalat 'id (shalat hari raya) dalam Tuhfah-nya Ibnu Hajar dengan maksud mendalami topik ini barangkali akan diamalkan. 


Pada awal bab mushannif menyinggung tiga alasan penamaan hari 'id, Saya syarah sedikit itung-itung bahan khutbah hari raya. 


Pertama, dinamakan ‘id karena setiap tahun hari raya berulang sehingga disebutlah 'id yang artinya berulang. Kedua, karena kembalinya kebahagian ('id al-surur) setiap tibanya hari 'id. Ketiga, karena banyaknya karunia Allah (katsrah al-'awa'id) kepada hamba-Nya. Al-‘Awa’id berarti karunia.

 

Mushannif tidak mentarjihkan satu pendapat seperti adatnya pada banyak masalah, karena ini bukan bahasan hukum, tapi soal variatifitas persepsi pada ilat tasmiyyah atau alasan penamaan saja. Tidak urgen untuk ditarjih lagipula tidak perlu.

 

Cuman dari tiga pendapat di atas saya tertarik dengan pendapat kedua. Pasalnya relate betul dengan suasana hati setiap tiba hari 'id. Sepertinya bukan hanya saya, karena bisa dibilang tabiat manusia pasti gud mud di hari raya.

 

Tetapi ketahuilah santri punya hari yang lebih istimewa dari hari ‘id.  Hari 'id minggir dulu dengan hari yang satu ini. Hari apakah itu? Apalagi kalau bukan “Hari Pulang Kampung.”


Sejauh yang saya amati dan alami, jauh hari sebelum pulkam masing-masing  santri telah memiliki kelender produksi pribadi, berupa  kertas buku dan berisi tanggal-tanggal yang diurut mulai tanggal kelender dibuat hingga hari libur.

 

Kelender itu ditempel pada tempat mudah dijangkau lalu setiap harinya disilangi tanda hari tersebut telah berlalu. Penuh semangat dan antusias, sesuatu yang belum saya dapati pada orang yang menanti hari raya, seperti saya tidak mendapati ada di antara kelender-kelender itu yang tertanggal hingga hari raya. Itu artinya tidak ada santri yang menanti hari raya, mereka hanya menanti hari libur. Wkwk.


Bahkan sejauh yang saya amati dan alami lagi, hari raya mengandung substansi yang lain bagi santri. Hari raya memiliki makna dan pertanda,  yaitu pertanda bahwa masa libur akan segera berakhir dan balik pondok akan segera tiba, artinya kebebasan akan sirna dalam hitungan hari.


Tapi kita bicara santri umum, ya. Karena ketentuan ini berbeda bagi kawan saya, sebut saja namanya Bereh. Bereh tidak telalu memasalahkan hari libur atau bukan libur. Semua hari di matanya sama yakni masa yang produktif buat belajar serta menghafal. Walaupun sudah berstatus guru.


Beberapa waktu yang lalu dirinya selesai menyetor hafalan 30 juz Alquran. Sama seperti dulu-dulu waktu liburan haji dan puasa dirinya jarang pulang kampung. Katanya target hafal Mutammimah, bait-bait nadhaman nahwu sharaf dan lain-lain. Bahkan katanya lebih fokus di waktu libur karena enggak banyak santri lain. 


Bereh adalah cerminan santri hakiki. Sangat dianjurkan bagi kita untuk mengikuti jejak Bereh.


 


Rujukan: 

Ahmad bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, Jld. III, (Beirut: Dar al-Fikr, 2010), h. 44.

 


Oleh: Muhammad Abrar

([email protected])


Posting Komentar

1 Komentar