Merencanakan Pembatalan Kiamat


NGAJIKUY.ID | Sama seperti biasanya, ritual kami sebelum tidur di bilik kayu--dengan lantai yang dilukis dengan beberapa sobekan karpet agar lebih aesthetic katanya--adalah mengumandangkan sebuah seruan yang dipelopori oleh Zulfikri, atau orang bilik memanggilnya si Dul.

"Besok pagi kita ngopi ya di keude bang Pi, sudah lama loh kita merasakan kiamat, padahal kan belum tiba." 

"Dul, kalau bicara hati-hati lah, gausah pake statement kiamat segala." 

"Kok kamu malah kepanasan, Don? Macam setan terkena air wudhu saja. Santai dikit kenapa, toh aku ngomongnya jujur kok."

Si Don mungkin terpancing amarah. Tampak betul dari aura mukanya. Padahal tadi dia paling mengantuk di balai pengajian.

Sepertinya ia tak terima kalimat "kiamat" yang dilontarkan dalam pembuka obrolan menjelang dimatikan lampu bilik dibawa-bawa dalam narasi si Dul. 

"Jujur apanya Dul? Kenapa kok beraninya kamu ngomong ke kita kalau kiamat sudah lama tiba?"

Tiga kawan lain yang juga berada di bilik hanya mendengar dengan sangat tidak saksama. Sepertinya tidak ada keinginan untuk sekadar nimbrung dalam obrolan. Mungkin karena memang sudah terlalu mengantuk. Atau mungkin karena temanya kurang berisi, entahlah.

"Emang benar kan, Don. Kita bangun pagi hanya untuk dua rakaat, lalu selimut telah siap ditarik ke sekujur tubuh layak mayat segar baru berubah status jadi bangkai. Tanpa sadar, sebenarnya kiamat telah lama membunuh kita, kikikik." Sambil tertawa, si Dul menjelaskan ke bang Don yang semakin tidak tahan dengan penyampaiannya itu.

"Bukankah salah satu tanda kiamat adalah matahari tidak lagi terbit dari sebelah timur? Benar kan Don?"

"Ya lah, tanpa kamu beri tau pun semua orang juga tau lah. Itu salah satu tanda kiamat, bahkan termasuk tanda kiamat Kubra (besar) dibanding tanda-tanda lain."

"Lalu kapan terakhir kali kamu melihat matahari terbit di sebelah timur Don?"

"Tiap hari matahari terbitnya ya di sebelah timur Zul, emang kenapa sih?"

"Kamu liat gak matahari terbit di timur?"

"Ya enggak juga, tapi kan emang masih terbit di sebelah timur."

"Kemarin kamu liat gak matahari pagi?"

"Enggak sih, aku ketiduran. Soalnya ngantuk setelah shalat subuh itu nikmatnya luar biasa."

"Kemarin lagi? Minggu lalu? Dua minggu lalu?"

"Sama juga Dul, kalau soal tidur selepas subuh aku enggak bisa tinggalkan, semacam ada hidangan yang telah menyambutku di mimpi saat aku tidur."

"Artinya kamu sudah lama kan enggak liat matahari terbit di sebelah timur? Bukan kah itu pertanda kiamat sebenarnya sudah lama kamu rasakan walau tanpa sadar. Sudah lama rezeki yang Allah simpan khusus untuk orang yang bangun pagi tidak kau ambil. Sudah lama peluang hebat luput gara-gara kealpaanmu di pagi hari."

"Iya Dul, kamu benar," si Don menjawab sambil menggaruk kepala. "Sekarang aku baru paham maksudmu. Besok pagi aku janji kita ngopi di tempat yang lagi hits di daerah kita. Suasana keude bang Pie pasti akan sangat memberi aura hebat bagi tubuh yang sudah bersemedi malas di dalamnya."

"Gak usah janji-janji segitunya Don, berapa banyak janji minum kopi pagi engkau khianati, setelah malamnya kamu berjanji layaknya orang yang sedang berorasi?"

"Hihihi, santai lah Dul, itu aja baper. Tenang, besok pasti kutepati, suweerr."

'Minum kopi pagi kalau aku rencanakan dengan si Don kayaknya sampai kiamat betulan pun tidak akan pernah terealisasi.' Batin si Dul saat kawannya telah menekan saklar lampu.

"Ya sudah lah Don, besok kita ngopi, mungkin saja kiamat bisa kita batalkan segera."

Oleh: Jazuli Abubakar

Penulis adalah mahasantri pascasarjana Ma'had Aly MUDI - Samalanga

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Alhamdulillah, sangat bermanfaat, penulisnya juga sangat enak di baca..

    BalasHapus