Benarkah Kita Telah Merdeka?

 

NGAJIKUY.ID | Bulan Agustus tentu istimewa bagi bangsa Indonesia. Di setiap tahunnya pada bulan ini, bangsa Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan negaranya. Andai pandemi telah usai, kita pasti akan menemukan beragam perayaan dan pesta rakyat di setiap penjuru Indonesia, baik di desa ataupun kota. Semuanya semata-mata sebagai bentuk luapan kegembiraan atas anugerah kemerdekaan yang telah diraih.


Namun, di saat yang sama, saat semua orang merasa berbahagia atas anugerah kemerdekaan, terlintas beberapa pertanyaan di kepala saya. Sebenarnya apa makna sesungguhnya dari kemerdekaan? Apakah kita benar-benar telah merdeka? Benarkah kita telah terbebas dari perlawanan para musuh? Apakah perjuangan kita telah benar-benar selesai dan berakhir? Semua pertanyaan ini membuat saya kembali berfikir dan membawa saya untuk teringat kembali pada salah satu riwayat dalam al-Jami’ al-Shoghir milik al-Suyuthi. Al-Khothib meriwayatkan dari Jabir bahwa sekembalinya dari sebuah perang Rasulullah pernah bersabda:

قدمتم من الجهاد الأصغر إلى الجهاد الأكبر قالوا: وما الجهاد الأكبر؟ قال: مجاهدة العبد هواه (الحديث)

“Kalian datang dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar. Para sahabat bertanya: ‘Lalu apa jihad yang lebih besar?’ Rasulullah bersabda: ‘Jihad seorang hamba (melawan) hawa nafsunya’


Riwayat ini secara harfiah mengungkapkan bahwa meski seseorang telah menyelesaikan perjuangannya melawan para musuh dalam medan pertempuran, namun ternyata dia masih memiliki tanggung jawab untuk berperang dengan hawa nafsunya. Artinya, meski dia telah merdeka dan bebas dari musuh yang mengangkat senjata, namun sesungguhnya dia masih terbelunggu dan terjajah oleh nafsunya sendiri. Implikasinya, jika seseorang masih terbelenggu oleh penjajah, maka perjuangan dan perlawanannya belum selesai.


Dari sudut pandang pribadi, saya bisa menilai bahwa riwayat di atas memiliki relevansi yang cukup kuat dengan keadaan yang sedang kita alami dan secara otomatis bisa menjawab pertanyaan yang berkelibat di kepala saya. Tentu untuk memahami sudut pandang ini perlu ada dua analisis yang perlu diurai.

 

Pertama, merujuk pada beberapa kamus, kita akan mendapati bahwa merdeka dimaknai sebagai sebuah kebebasan, ketidakterikatan dan terlepas dari belenggu intervensi serta beragam bentuk paksaan dan tuntutan. Berdasarkan makna ini, maka kemerdekaan secara personal dan individual dimaknai sebagai otoritas dan kebebasan diri dari belenggu apapun yang bersifat interventif, termasuk hawa nafsu dan godaan setan, untuk mencapai sebuah kebahagiaan. Sehingga, selama seseorang masih dikuasai oleh hawa nafsunya, berarti dia belum mendapatkan kemerdekaan.

 

Analisis ini tak jauh berbeda – bahkan mungkin saling melengkapi – dengan teori yang pernah disampaikan oleh al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin:


إنما السعادة كلها في أن يملك الرجل نفسه والشقاوة في أن تملكه نفسه

“Kebahagiaan (hanya bisa dirasakan) ketika seseorang bisa (terbebas dan) menguasai nafsunya, dan kesengsaraan (dirasakan) ketika seseorang dikuasai oleh nafsunya”


Kedua, setiap orang memiliki setan yang harus dia perangi. Hal ini didukung dengan salah satu riwayat yang disampaikan oleh al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddin. Ma min Ahadin Illa wa Lahu Syaithonun, tidak ada seorangpun yang tak memiliki setan. Dan secara syariat, memang semua setan merupakan musuh yang harus dan seharusnya dimusuhi. Inna al-Syaithona lakum ‘Aduwwun Fattakhidzuhu 'Aduwwan, sungguh setan merupakan musuh kalian maka perlakukan dia sebagai musuh.


Jika demikian, implikasinya tak seorang pun yang merdeka dan terbebas dari musuh serta penjajah berupa setan dan tak seorang pun yang tak berkewajiban untuk memerangi setan. Oleh karena itu, teori al-Munawi dalam Faidhul Qodir, yang menyatakan bahwa memerangi hawa nafsu dan setan merupakan suatu hal yang hukumnya fardlu ain dari waktu ke waktu, terasa wajar, logis dan realistis.


Konklusinya, sesungguhnya kita tak pernah benar-benar merdeka jika kita masih tunduk dibawah godaan hawa nafsu. Kita tak pernah benar-benar bebas dari penjajahan dan intervensi jika segala perilaku kita masih didorong motivasi untuk memuaskan hawa nafsu. Perjuangan kita untuk melawan musuh tak pernah benar-benar selesai jika diri kita sendiri masih sering kalah dengan dorongan nafsu.

 

Sehingga meski sebagai bangsa kita telah merdeka secara de jure ataupun de facto berdasarkan hukum internasional, namun sesungguhnya secara personal kita belum bisa memastikan bahwa diri kita benar-benar telah merdeka dari musuh yang bernama setan dan hawa nafsu. Kita belum memastikan secara nyata bahwa kita telah memenangkan pertarungan melawan setan dan nafsu kita sendiri? Lantas, apa yang harus kita perbuat? Jawablah pada diri masing-masing.


Oleh: M. F. Falah Fashih

Mahasantri Pascasarjana Ma’had Aly Lirboyo – Kediri

([email protected])



 

 

Posting Komentar

0 Komentar