Usia 25 Malah Jadi Menakutkan Akibat Keseringan Baca Kata Motivasi



NGAJIKUY.ID | Menghadapi usia 25 kerap membuat kita resah dan khawatir akan masa depan. Tabungan yang tak kunjung bertambah, hidup yang gini-gini amat. Orang-orang pada kaya tapi aku? Orang-orang sudah menikah tapi aku? adalah beberapa contoh keresahan juga kekhawatiran manusia usia ini.


Banyak ungkapan yang kata mereka quotes motivasi menyuguhkan kalimat-kalimat yang memaksa sukses di umur ini dengan mematok batasan tertentu. Misal, "Di usia 25 kamu harus punya tabungan 100 juta". Atau "Kamu akan tenggelam jika di usia 25 hidupmu masih gitu-gitu aja." Hah tenggelam? Titanic, dong.


Memang kalimat-kalimat semacam ini menurut pikiran positif saya bertujuan membuat anak muda sadar akan pentingnya waktu dan potensi yang ada untuk benar-benar dimanfaatkan, bukan berleha-leha dengan keadaan sekarang. Tetapi sadarkah di balik kalimat itu tersirat makna yang terlalu memaksa kehendak. 


Kalimat motivasi itu ditulis dalam limit waktu lima menit yang berisi, "Kamu akan hilang dalam kehidupan jika di umur 25 masih belum mapan." Tapi motivator tidak menyadari bahwa tidak ada manusia yang ingin gagal, hilang, tenggelam atau apa itu. Semua anak muda pasti ingin sukses. cuma memang Tuhan telah menakdirkan siapa yang sukses dan siapa yang tidak. Memangnya para motivator itu bisa bantu kita ngomong ke Tuhan, kan nggak?


Bukan saya mengajak manusia hidup biasa-biasa saja, tapi saya ingin katakan bahwa tidak perlu ambil pusing jika belum sampai pada tujuan yang ingin dicapai. Yang penting sudah berusaha, toh bukan salah kita belum sukses, tapi salah mereka yang mengukur sukses dengan standar mereka sendiri.


Jujur saya kurang setuju dengan kalimat, "Pemuda ini sukses, karena dia mampu menghasilkan uang 100 juta di umur 25" seakan jika kita balik kalimat itu maka akan berbunyi, "Pemuda lain gagal, karena tidak mampu menghasilkan uang 100 juta di umur 25." Sungguh tidak layak menyandang gelar gagal karena hanya belum kaya. 


Ditambah lagi mengukur kesuksesan dengan harta dan membuat perbedaan kasta dalam lingkungan sosial antara kaya dan miskin adalah sikap unmoral, tidak logis, juga tidak dianjurkan Tuhan.

 

Saya teringat ungkapan Abdullah bin Mas'ud r.a dalam sebuah kalamnya:

اِرْضِ بِمَا قَسَّمَ اللهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ، وَأَدِّ مَا افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ 

"Ridhalah dengan ketetapan Allah, kamu akan jadi manusia paling kaya. Penuhilah seluruh perintah-Nya, kamu akan jadi manusia paling dekat dengan-Nya."


Abdullah bin Mas'ud mengajari kita memahami makna kaya yang sebenarnya. Bahwa untuk menjadi kaya bukan semata-mata punya uang banyak. Meraih ketentraman bukan semata-mata memiliki istri yang super cantik, juga bukan dengan patokan-patokan motivator yang membatasi standar pada materi. Menjadi kaya cukup ridha dan senang dengan ketetapan Allah kepada kita.


Logikanya begini, orang yang tidak banyak keinginan di dunia akan merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Ia tidak menganggap dirinya miskin karena toh dirinya menikmati apa yang ada padanya. Akan tetapi, mereka yang melambungkan ekspektasi menunaikan kebutuhannya, dan mencari cara agar keinginannya bisa terpenuhi, tidak akan sempat menikmati apa yang dimilikinya karena sibuk mengumpulkan barang yang belum dimiliki.


Karena itu, tidak perlu khawatir jika kita belum kaya, belum mapan, dan belum lain-lain. Yang terpenting saat ini, kita menikmati apa yang ada. Sebab apa yang ditakdirkan untukmu tidak akan pernah terlepas darimu, apa yang bukan milikmu tidak akan datang padamu. Tuhan telah mengaturnya, kita hanya perlu menjalani dengan bijak.


Meski demikian, bukan berarti tidak bekerja. Saya hanya ingin katakan bahwa, jangan terlalu overthinking dengan umur 25, seakan-akan kita wajib sukses di umur tertentu. Kita bebas memilih jalan hidup sendiri. Jangan terjebak dengan ukuran sukses yang dibuat oleh orang lain.


Silakan memilih, mau hidup biasa saja boleh, mencari uang banyak boleh, menikah di umur 25 boleh, tidak menikah juga boleh, semuanya boleh. Yang tidak boleh itu kamu menyuruh orang lain harus berbuat ini-itu di umur 25. Memaksa orang lain untuk sukses dengan versimu bukan dengan versi mereka,  itu  tidak boleh.


Akhir kata, saya ingin mengutip kalam hikmah yang diutarakan oleh sayidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhah:

مَنْ رَضِيَ بِمَا قُسِّمَ لَهُ إِسْتَرَاحَ قَلْبُهُ وَبَدَنُهُ

“Siapa yang menerima dengan tulus apa yang telah ditakdirkan Tuhan untuknya, niscaya ia menjadi orang paling tenang hatinya dan nyamah badannya.”

 

 

Jazuli Abubakar

Mahasantri Pascasarjana Ma’had Aly Mudi Mesra - Samalanga

 

Posting Komentar

0 Komentar