Haul Abon Aziz ke-33 dan Tiga Pelajaran dari Abu Lamkawe

 





NGAJIKUY.ID - 33 tahun silam Abon Abdul Aziz bin Shaleh wafat. Semenjak itu, haul kewafatan diperingati setiap tahun oleh murid dan para pecintanya. Peringatan haul dikoordinir oleh dayah MUDI dan hingga kini masih dilestarikan sebagai momentum mengenang figur almarhum, membangkitkan semangat ilmu dan mempererat ukhuwah.

 

Kali ini, peringatan haul tak begitu ramai. Wajar saja karena berpijak atas mufakat bahwa haul akbar hanya diadakan dua tahun sekali, adapun selain itu diselangi oleh haul keluarga. Haul keluarga diistilahkan sebagai haul yang membatasi undangan keluarga MUDI dan beberapa tokoh penting saja. Kebetulan tahun ini bertepatan haul keluarga yang artinya haul akbar akan dilaksanakan kembali tahun depan.

 

Meskipun tidak ramai dan meriah, peringatan haul diwarnai oleh pemandangan yang menarik. Saya sempat merenung pemandangan ini belum pernah ada sebelumnya juga belum pernah terlihat pada haul di manapun. Pemandangan yang saya maksud adalah tingkah Abu Lamkawe sebagai tamu haul murajaah kitab kepada Abu MUDI, yang tidak lain adalah muridnya.

Pada hari haul, saya bersama kelas 4 H mendapat bagian mengawas lokasi Abu MUDI menyambut tamu. Di sela-sela tugas kami, seorang asisten Abu mengonfirmasi bahwa Abu Lamkawe telah tiba namun bukan hanya memenuhi undangan haul tetapi juga hendak mendiskusikan sesuatu. Abu MUDI lantas memberi amanat agar mempertemukan dirinya dengan Abu Lamkawe di kamar Bale Beton saja, kira-kira 100 meter dari tempat Abu menyambut tamu yang disiapkan. Saya masih di tempat tugas dan Abu berpindah tempat menuju kamar Bale Beton.

 

Beberapa saat kemudian, banyak orang mulai membagikan moment keduanya di status-status WhatsApp dan WAG (WhatsApp Group). Tampak dari foto yang tersebar, guru dan murid itu duduk pada sebuah sofa. Abu Lamkawe setia menanti jawaban Abu MUDI yang sedang fokus memperhatikan sebuah teks kitab. Tidak begitu jelas nama kitab serta teks yang menjadi objek pembahasan. Namun, jika foto sedikit diperbesar pada bagian sampul kitab, dapat ditebak kitab yang dibahas adalah Sabil al-Muhtadi karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, kitab fikih dalam mazhab Syafi’i.


Mengamati moment ini, saya belajar tiga hal dari Abu Lamkawe.

 

Pertama, semangat belajar. Abu Lamkawe telah berumur 77 tahun (lahir 1945) tetapi masih punya semangat belajar yang tinggi. Pada kesempatan lain kerap tersebar foto Abu Lamkawe sedang muthalaah kitab dalam mobil pribadinya saat dalam perjalanan. Jika mengingat hadis uthlub al-ilma min al-mahdi ila al-lahdi, Abu Lamkawe dapat ditunjuk sebagai pengamal hadis yang baik.

 

Kedua, tawadhu. Moment murajaah kitab Abu Lamkawe mengonfirmasi sifat tawadhu yang dimilikinya. Abu Lamkawe adalah guru kelas Abu MUDI, tetapi tidak ada tirai yang menghalangi beliau untuk mendiskusikan ilmu bersama muridnya.

 

Ketiga, tidak menyiakan waktu. Moment itu juga megonfirmasi bahwa Abu Lamkawe adalah tipe orang yang tidak menyiakan waktu. Murajaah kitab dalam kenduri haul adalah tingkah yang tidak lazim. Lumrahnya seorang tamu datang untuk bertawasul atau shamadiah mengirim pahala kepada almarhum, mencicipi hidangan, ngobrol atau bersenda gurau dengan tamu lain dan keluarga besar, lalu pamit pulang. Abu Lamkawe justru menyita perhatian dengan tingkahnya bermurajaah kitab.

 

Tetapi hal ini cukup wajar jika menerka kesibukan Abu Lamkawe sebagai ulama Pidie, tentu jarang baginya ada kesempatan menuju ke Samalanga dari tempatnya, Kembang Tanjong yang jaraknya kurang lebih 50 km. Jadi, bolehlah sambilan hadir undangan murajaah kitab, sambil menyelam minum air.

 

Sebelum mengakhiri tulisan ini saya ingin mengabarkan bahwa awalnya sempat penasaran akan pembahasan apa yang asik dibincangkan oleh kedua ulama Aceh ini dalam kamar Bale Beton. Hal ini lantas terjawab setelah Abu MUDI mengirim postingan di akun medsos pribadinya, beliau menulis, “Bahas masalah tasybik (menyilangkan) jejari dalam masjid sembari nunggu waktu shalat hukumnya makruh.” Akhirnya saya tidur lelap.



Oleh: Muhammad Abrar

Mahasantri Pascasarjana Ma'had Aly MUDI Mesjid Raya Samalanga

 

 

 


Posting Komentar

0 Komentar