Menutup Kelam

Oleh: Mirna Furqan binti Abdullah



NGAJIKUY.ID | Akhir-akhir ini aku tertipu. Gemerlap dunia kerap membuatku lupa akhirat. Pun keluargaku sibuk dengan kerjanya  hingga lupa meluangkan waktu untuk mengajarkanku. “Apakah mereka lupa dengan amanah yang Allah Swt. titipkan ini?" Gerutu hatiku yang bingung setiap saat. 

 

Hari berlalu melewati lorong kehidupan. Kian hari tak tau arah tujuan ke mana hendak melangkah. Suatu saat ku terdiam dalam sepi memantau ke arah jalan, tiba-tiba terdengar suara telapak kaki melangkah menuju pondok pesantren dekat rumahku. Mata ini tak bisa berkelip melihat ketampanan dan kewibawaannya yang meggetarkan jiwa. Detak jantung tak bisa berhenti, seakan dunia ini berhenti dan tinggal hanya aku dan dia. Ia pun sekejap mata hilang entah ke mana. Baru kali ini aku merasakan getaran yang berbeda hingga ingin mencari tau siapa lelaki itu.


Matari mulai menerangi bumi, hati bertanya-tanya, berinisiatif untuk mencari informasi lelaki misterius itu, hingga membawa kaki menuju arah pesantren. Perasaanku terhadap pesantren sebenarnya tidak begitu antusias. Duniaku bersalahan dengan norma-norma agama. Satu langkah kaki baru melangkah di tanah pesantren, hati pun merasakan ketenangan dan ketentraman jiwa yang belum pernah ku resapi sebelumnya.

 

Ku menuju kepada santri yang sedang beraktifitas mulai dari tilawatil qur'an, melatih berpidato, membaca kitab kuning, dan lain-lain. Jiwa ini merasa malu terhadap mereka, jauh-jauh meninggalkan rumah hanya untuk menimba ilmu agama, sedangkan aku yang hanya beberapa langkah dengan kebun surga, baru kali ini hadir. Mata menetesi air seraya hati berkata: “Betapa munafiknya aku ini, membiarkan jahil dalam urusan agama sedangkan cahaya berada dekat denganku.”

 

Saat cahaya senja redup dan mendatangkan malam yang ditaburi bintang berhamburan telah mantap niatku. Aku meminta izin kepada Ibu dan ayah agar mendaftarkan diriku ke pondok pesantren. Ibu sangat setuju apalagi menurutnya bisa mengurangi beban dalam mengurusku, maklum, aku orang yang susah diurus. Keesokan harinya aku pun diantar ke Pondok, dan menemui pimpinan pondok. Spanduk raksasa dari hadapan pintu gerbang itu menulis nama pesantren ini. Pesantren MATA (Manhajuth Thalibin Al-Aziziyah), iya begitu ia dikenal akrab oleh penduduk desa ini dan beberapa desa lain, belum begitu familiar. Pondok yang dipimpin oleh Teungku H. Muksalmina yang akrap disapa dengan Abiya. 

Ibu pun menyerahkanku dengan sepenuh hati kepadanya dan Abiya dengan senang hati menerimaku menjadi santriwati pondok pesantren MATA. Tujuanku sebenarnnya mencari tau pria misterius tersebut, halah, ilmu agama belum membuatku berselera, namun tidak ada tanda ia di Pondok ini. Walau detik ini aku telah sah menjadi santri baru, iya santriwati. 

Hari-hari pun berlalu, mendidikku menjadikan ku mandiri mulai harus memasak, menyuci sendiri serta kegiatan lainnya, semua ku kerjakan sendiri. Awalnya merasa lelah, namun sekarang sudah terbiasa mandiri. Aku menulis beberap catatan dan kadang-kadang menulis pidato, senang saja aku mengisi kertas-kertas itu dengan tinta.


Hari, pekan dan bulan pun berlalu begitu cepat, pikiran dan hati tak pernah terlepas tentang lelaki yang pernah ku lihat, sebenarnya ia menjadi pemikat hati dan pemicu dalam setiap perubahanku, akankah pertemuan itu datang kembali atau ia hanya sosok yang hanya melintas secara khayali. Di sepertiga malam aku sering bermunajah dengan Tuhan, diam-diam agar ia baik-baik saja seraya terbisik di lubuk hati “Ya Rabb, jika dia terbaik maka pertemukan kami kembali."


Walau di awal aku kurang menikmati ilmu, tetapi lama berada di tanah ini jiwa semakin terasa ingin memperbaiki diri. Aku mulai mengenal dan mendalami banyak hal tentang ilmu tauhid, fiqh dan tashawuf, dan beberapa fan ilmu lainnya. Saat aku sudah selesai shalat dzuha dan membaca Surah Al-Waqiah, terdengar suara mobil, aku melihat pria misterius yang selama ini ku cari. Ia masuk ke rumah Abiya, langsung saja ku selesaikan lantunan dan melihat pria itu, ternyata lelaki tersebut adalah putra Abiya, seorang guru di LPI MUDI Mesjid Raya, Samalanga, pondok ternama di Aceh.

 

Ia tak pernah terlihat karena jarang menjenguk kediamannya dan sekarang ia menjadi seorang pendakwah yang masyhur. Langit pun seakan hitam, ternyata aku telah melabuhkan cinta pada orang yang tak mungkin ku gapai. Aku merenung barangkali cintaku senasib seperti Laila dan Qais. Qais yang hanya bisa mencium tembok rumah Laila sedangkan sang putri harus mematuhi titah ayahnya. Tetapi saat ini aku saja yang menikmati cinta sedangkan dia tak pernah mengetahuinya. Tubuhku laksana dipenjara yang tak bisa menembus jeruji besi cinta yang lama terpendam, mungkin ini adalah akhir kisah cinta berujung siksa karena telah ku labuhkan cinta pada sosok pria yang belum halal. Aku pun menjerit dengan penuh penyesalaan pada Allah Swt. “Ya Rabb maafkan aku yang telah berkhianat mencintai manusia yang belum halal. padahal yang seharusnya cinta ini ku labuhkan pada-Mu dan Rasul-Mu yang agung.


Aku malu dengan putri baginda Rasulullah saw. yaitu Fatimah Az-Zahra karena ia mengatakan wanita mulia adalah wanita yang tidak melihat lelaki dan dilihat lelaki, sedangkan aku selalu berkhayal tentang dia. Tubuh ini gemetar karena takut Allah Swt. murka dan akhirnya aku lebih mendekatkan diri kepada pencipta. Ku buka lembaran baru dan memilih memakai cadar untuk menjaga semua hal agar lebih terjaga. Aku masih saja menetap di pondok ini dan menyibukkan diri dengan menulis agar lupa dengan cinta yang tak semestinya. Cinta datang dari Allah maka kita harus bijak dalam memaknainya.

 

Cinta telah mengubah hidupku menjadi lebih baik hingga akhirnya berhasil menulis buku yang ku beri judul, “Mahabbah kepada Pencipta dan Rasulullah saw.” buku pertamaku ini diminati, baik dari kalangan remaja maupun dewasa. Semenjak penerbitan buku tersebut aku menjadi masyhur dan banyak orang yang memintaku untuk memberikan motivasi atau tausiah agama. Keluarga pun sekarang lebih mengerti tentang norma agama dan memutuskan untuk lebih mendalami ilmu agama. Kebahagian dan kesuksesan mulai ku raih seakan dunia telah ku genggam dengan ilmu yang ku miliki. 


Namun, masih ada saja terasa hambar karena penantian cinta belum juga terpenuhi. Waktu pun terus bergulir menyongsong kehidupan sepi yang mendabakan sosok imam dalam hidupku karena menikah merupakan sunnah nabi yang harus ku jalankan. Menikah bukanlah perkara yang mudah karena bukan hanya menyatukan dua insan tetapi menyatukan keluarga. Oleh karena itu, kita harus benar-benar siap lahir batin agar mendapatkan surga dan sebaliknya jika hanya memodalkan nafsu maka akan berdosa dan tidak mendapatkan kebagian melainkan kehancuran. Senja mulai kehilangan warnanya, malam pun datang. Aku yang asik menulis dalam kamar terkejut oleh panggilan ibu.

 

Aku menyapanya dan keluar mendekat. Ternyata kami kedatangan tamu yang mulia, keluarga Abiya singgah di rumah kami. Aku lantas mencari-cari dan lantas tersipu malu tatkala menemukan di antara mereka ada lelaki yang begitu ku cintai. Aku menunduk dan sesaat Ibu berbasa-basi dan menanyakan maksud kedatangan mereka ke rumah kami. Ketika kata keluar dari bibir Abiya, seketika tubuhku pucat kaku. Detak jantung terasa berbeda, begitu cepat dan bahkan sangat cepat. Abiya datang ke rumah menemui kami untuk meminangku menjadi menantunya. Abiya menceritakan bahwa anaknya telah lama memendamkan rasa kepadaku. untuk mewujudkan kesuksesan dalam menuntut ilmu ia memilih untuk tidak berbicara sebelum waktunya. Sekarang adalah waktu yang sangat tepat untuk mengungkapkannya.


Jika hati bisa berbicara maka akan ada sebuah teriakan bahwa inilah sebuah kebahagian hakiki. Pria itu adalah Akhi Rahman yang selama ini ku dambakan. sebuah keajaiban besar atas setiap bait doa yang ku panjatkan pada pencipta untuk mempersatukan kami kelak. Akhirnya kami pun dipersatukan dalam ikatan pernikahan dan kami pun meneruskan pesantren yang telah dibangun oleh Abiya untuk mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak, remaja dan orang tua. Kebahagian pun menyelimuti keluarga karena ilmu.

 

Aku meyakini bahwa cinta bukan dilahirkan untuk bermaksiat tetapi untuk lebih dekat kepada-Nya, Tuhan semesta alam. Raihlah semua impian, tuntutlah ilmu dan selalu berprasangka baik pada Allah Swt., agar apa yang disemogakan tersemogakan. Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan ridha Allah Swt.

 

Oleh: Mirna Furqan binti Abdullah

Santriwati Dayah Darul Al-Munawwarah, Kuta Krueng, Pidie Jaya, Aceh.

Posting Komentar

0 Komentar