Terjebak pada Embel-Embel Viral Itu Tidak Sehat

“Mau kemana Don?”

Tampak siang itu di tengah cuaca yang bisa membuat telur masak setengah matang, si Don dengan setengah berlari pergi ke arah kantor kepala desa.

Ke rumah kepala desa, mau ketemu Pak Ubit, mau ngelaporin kasus pemburuan anak kucing.

Hah, gimana-gimana? Aku kurang paham.

Gini Dul, jadi ada desas desus warga, katanya penyebab warga gagal panen adalah karena kucing pembawa sial. Semenjak banyak muncul kucing hitam yang dulu tidak pernah kelihatan, banyak kesialan tertimpa warga, salah satunya gagal panen musim kali ini. Kemunculan kucing itu seperti kutukan bagi kita, Dul. Makanya aku harus buru-buru ngelaporin ke kepala desa karena prihatin dengan kondisi warga kita, agar segera diambil tindakan pemburuan kucing biar kutukan ini segera hilang. Ayo, kamu ikut aku sekalian kita desak Pak Ubit untuk menindak kasus ini secepatnya.”

“Waduh, baru dengar aku. Memangnya warga tahu kucing itu bawa sial dari mana?”

Kamu kurang update sih, Dul. Kan sudah viral di ragam media sosial juga di akun-akun besar berita, kurang lebih isi berita kucing akan membawa sial selama satu bulan ini.

“Aneh banget beritanya,” dengan mengerucutkan dahi si Dul menambahkan, Kamu sudah cross check kevalidan berita itu?”

Ah, kamu, Dul suka nyusahin diri sendiri. Yang namanya berita viral itu sudah pasti isinya valid, masa itu aja kamu gak tahu. Gak mungkin, lah, semua orang salah. Sudah mutawatir.

Nah ini, aku kalau yang ini kurang setuju denganmu, Don. Gimana logikanya coba semua berita viral itu autentik, dapat dipercaya dan tidak semua berita autentik itu viral.”

“Ah, kamu sok tahu, Dul. Masa berita yang sudah meluas seperti itu belum tentu benar, gak mungkin lah.”

“Gini Don. Kamu lihat kan di Instagram, banyak orang yang upload foto tentang keseharian mereka yang bahagia, kamu lihat kan di media sosial orang-orang memperlihatkan kekayaan mereka, kamu juga lihatkan orang-orang yang memperlihatkan kesederhanaan hidup mereka di dunia maya padahal kamu tahu orang itu kaya.”

Terus apa hubungan dengan kasus ini?

“Masa aku harus jelasin dengan detail, sih. Jangan sering bikin pikiran nganggur loh, nanti kalau dia marah malah gak mau kerja lagi buat mikir.”

Don terdiam lalu agak terkekeh mendengar ucapan Dul.

“Berita yang berseliweran di dunia maya itu tidak ada yang seratus persen dapat dipercaya, semuanya harus terlebih dahulu diperiksa kebenarannya, apa lagi kasus ini tidak jelas beritanya dari mana. Di balik dari beredarnya sebuah berita, ada kepentingan-kepentingan orang yang kita tidak tahu tujuan dari viralnya suatu berita. Kalau dalam ilmu mantiq, ini disebut dengan khathaul Burhan atau kesalahan dalam mengambil dalil. Harusnya yang dijadikan pegangan adalah sesuatu yang dapat dipastikan kebenarannya bukan yang ramai atau viral kasusnya.


"Lha kalau bawa-bawa mantiq aku engga paham, Dul."


"Namanya dunia maya, tidak semua hal bersifat nyata, beberapa hal yang ada didalamnya malah bersifat maya meski tidak semua. Namun memang untuk zaman sekarang harus diakui bahwa kita kewalahan untuk membedakan mana yang memang nyata dan mana yang sekadar maya. Teknologi dengan segala kecanggihannya membuat kita tersugesti dan sedikit banyaknya telah mengubah pola pikr kita. Persepsi tentang manusia, persepsi tentang sebuah berita dan bahkan persepsi tentang dunia.”

Aku mulai gak paham nih pembicaraanmu, nanti kalau ada waktu senggang kita bahas panjang, lah ya. Jadi gimana ini, Dul? apa aku gausah lagi menemui Pak Ubit?

“Itu kembali ke kamu, aku sudah jelasin panjang lebar, lho tadi. Pertimbangannya ya di kamu.”

Don merenung mencerna ucapan Dul.

“Tapi ya kalo kamu kurang yakin ya sudah, demi memastikan masalah ini pergi saja ke rumah Pak Ubit menyampaikan soal ini dan agar keresahan warga bisa segera teratasi.”

“Ya sudah, lah, baik Dul, aku pergi dulu, ya. Assalamualaikum!

Ya. Waalaaikumsalam.

Setibanya di rumah kepala desa, dengan sedikit terengah-engah Don mengetuk pintu.

“Tok tok tok. Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, eh ada nak Zunnun tumben ke rumah, silakan masuk!”



Oleh: Jazuli Abubakar


Posting Komentar

0 Komentar